HANKAM

Babinsa yang Tak Pernah Lelah Jaga Ciliwung dari Sampah

Peltu Waridi
Peltu Waridi. (Foto: Pendam Jaya)

Jakarta, IDM - "Kalau dibilang capek, ya capek sih, tapi ini sudah tugas saya sebagai Babinsa," begitulah kata Pembantu Letnan Satu (Peltu) Waridi, prajurit TNI AD dari Kodam Jaya yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur.

Lewat video wawancara yang diunggah akun resmi Kodam Jaya, @kodam_jayakarta, Jumat (22/8), Waridi sehari-hari harus berpatroli, tugasnya harus menjaga Sungai Ciliwung bebas dari sampah.

"Kebetulan daerah Bidara Cina dialiri Sungai Ciliwung, setiap hari saya menghimbau mereka (masyarakat) agar jangan buang sampah sembarangan, karena hanya orang-orang di pinggir kali ini yang harus kita ajak," kata Waridi.

Baca Juga: SPPG Lanud BNY Distribusikan 3.498 Makan Bergizi Gratis

Wilayah Bidara Cina memiliki luas 126 hektare dengan penduduk 44,7 ribu jiwa. Beberapa Rukun Warga (RW) di tepi sungai menjadi kantong resiko banjir.

Waridi mengisahkan segala resiko banjir sudah disiagakan tim, diantara menyiapkan tali tambang dengan panjang ratusan meter.

"Ini untuk evakuasi warga yang rumahnya berada paling belakang. Lokasinya sempit, kita berjalan mengevakuasi sambil memegang tali tambang, tidak bisa menggunakan kapal untuk evakuasi," kata Waridi.

Ia mengaku saat ini respons warga sangat baik. Pihaknya selalu memberikan aksi dan petunjuk awal.

Baca Juga: Airdrop Bantuan Logistik untuk Warga Gaza Diperpanjang hingga 28 Agustus

"Setelah kita melakukan kegiatan bersih-bersih, akhirnya warga tergugah lama-lama melihat ikutan bersih-bersih, ikutan melarang buang sampah sembarangan," kata Waridi.

Babinsa Peltu Waridi
Babinsa Peltu Waridi siaga dengan tambang saat terjadi banjir. (Foto: Pendam Jaya)

Program "Jaga Bumi" Kodam Jaya

Kodam Jaya/Jayakarta tengah menggalakan program "jaga bumi" yaitu menjaga Sungai Ciliwung dari sampah.

Dijelaskan dalam keterangan Pendam Jaya bahwa sejak awal Maret 2025, tercatat lebih dari 1.500 ton sampah terbawa arus Ciliwung dan ditangkap di saringan TB Simatupang. Angka ini mengingatkan kita bahwa sungai masih menanggung beban besar dari aktivitas manusia.

Baca Juga: TNI AU-RAAF Tingkatkan Profesionalisme dan Kesiapsiagaan dalam Latma Elang Ausindo 2025

"Bagi Babinsa Kodam Jaya, menjaga sungai bukan sekadar membersihkan. Ini bagian dari mendampingi warga, mengurangi risiko banjir, dan memastikan lingkungan bisa sehat semaksimal mungkin," jelas keterangan Pendam Jaya.

Lewat program “jaga bumi” yang digerakkan oleh Pangdam Jaya hadir agar peran TNI juga menyentuh aspek lingkungan. Babinsa menjadi bagian dari perubahan sederhana namun penting.

"Mari bersama menjaga Ciliwung. Mulai dari hal kecil seperti mengurangi plastik sekali pakai, tidak membuang sampah ke sungai, dan ikut terlibat dalam kegiatan lingkungan di sekitar kita," ajak Kodam Jaya. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.