Aligator sampai MLRS Norinco, 5 Roket Andalan Marinir Akan Tampil di Defile HUT TNI

Jakarta, IDM – Lima alutsista roket kebanggaan Korps Marinir akan turut memeriahkan defile pada upacara puncak perayaan HUT ke-80 TNI. Kendaraan tempur tersebut berasal dari Batalyon Roket (Yonroket) 1 Marinir dan saat ini tengah menjalani proses penyiapan akhir di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (4/10).
Kelima kendaraan tempur roket yang akan tampil terdiri atas Aligator, Tatrapan, MLRS Vampire, RM-70 Grad, dan MLRS 90B Norinco. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda.
Aligator merupakan ranpur amfibi lapis baja asal Slovakia yang mampu bergerak lincah di darat maupun air sambil membawa sistem peluncur roket. Rekannya, Tatrapan, juga berasal dari platform Tatra dan banyak difungsikan sebagai kendaraan komando maupun peluncur roket multilaras.
Baca Juga: Tampil dengan Kostum Unik 2.144 Siswa se-Jawa Timur Lomba Baris-Berbaris di Poltekad TNI AD
Masuk ke kategori artileri roket berat, MLRS Vampire dan RM-70 Grad dikenal sebagai peluncur roket kaliber 122 mm dengan kemampuan meluncurkan puluhan proyektil dalam hitungan detik untuk menghajar sasaran area. Adapun yang terbesar di antara kelima alutsista tersebut adalah MLRS 90B Norinco buatan Cina, yang membawa roket kaliber lebih besar dan dirancang untuk melibas sasaran dengan daya hancur tinggi.
Untuk memastikan seluruh kendaraan dalam kondisi prima, Komandan Batalyon Roket 1 Marinir Letkol (Mar) Baron Habibi memerintahkan para prajuritnya untuk melakukan pembersihan kendaraan tempur, pemeriksaan mesin dan seluruh komponen penggerak secara detail.
Menurutnya, kesiapan alutsista adalah bentuk kehormatan sekaligus tanggung jawab dalam menjaga kepercayaan negara.
Baca Juga: 850 Prajurit Yonif 412/BES Diberangkatkan ke Republik Demokratik Kongo, Ini Misinya
“Laksanakan penyiapan dan kesiapan dengan benar, sesuai prosedur, karena saat pelaksanaan akan disaksikan oleh jutaan mata. Tetap utamakan faktor keamanan dan keselamatan personel maupun material,” tegasnya kepada para prajurit.
Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah menyebut perayaan HUT ke-80 TNI tahun ini akan menjadi yang terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan, lebih dari 133 ribu personel TNI dan unsur pendukung akan dikerahkan dalam rangkaian acara.
“Rencananya kita melibatkan kurang lebih 133 ribu personel. Ini jauh lebih besar dari tahun lalu. Pada HUT ke-79 yang sudah kita lihat begitu masif saja jumlahnya hanya 100 ribu,” ujarnya usai gladi bersih di Monas, Jumat (3/10).
Baca Juga: TNI Lepas Satgas BGC ke Kongo, Diberi Tugas Awasi Embargo Senjata-Penegakan HAM
Selain personel, sebanyak 1.047 alutsista dari tiga matra juga disiapkan untuk parade dan demonstrasi kemampuan tempur.
“Selain parade dan defile, nanti akan ada demonstrasi, berbagai unjuk keterampilan prajurit dan alutsista. Seperti penanggulangan bencana, kemampuan victory jump dari pasukan khusus, hingga teknik penyerbuan,” tambahnya.
Rangkaian atraksi yang akan ditampilkan meliputi defile drumband dan pasukan upacara, dilanjutkan flypass pesawat tempur, dogfight, manuver ranpur, serbuan gedung, serbuan kuda, penanggulangan bencana, hingga high speed pass. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































