HANKAM

Tradisi Pemberian Warga Kehormatan, Penghargaan yang Berakar dari Sejarah Panjang TNI

Prajurit Korpasgat
Prajurit Korpasgat mengangkat KSAU Marsekal TNI M.Tonny Harjono (kiri), Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (kanan) usai acara pengukuhan Warga Kehormatan di Mako Korpasgat, Bandung. (Foto: Dok. Penkostrad)

Jakarta, IDM – Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara mengukuhkan lima pimpinan dari unsur TNI dan Polri sebagai Warga Kehormatan Korps pada upacara yang berlangsung di Markas Komando Korpasgat, Bandung, Jawa Barat, Senin (26/10).

Upacara pengukuhan dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono dengan Panglima Korps Pasukan Gerak Cepat (Pangkorpasgat) Marsdya TNI Deni Muis bertindak sebagai inspektur upacara.

Lima tokoh yang menerima status Warga Kehormatan Korpasgat terdiri atas Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi, serta Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.

Baca Juga: Helikopter TNI AD Gempur Karhutla Gunung Lawu, Siram 45 Ribu Liter Air

Pemberian status Warga Kehormatan merupakan salah satu tradisi yang telah lama hidup dalam budaya militer Indonesia. Dikutip dari berbagai sumber, tradisi ini lahir sebagai bentuk penghormatan institusional kepada individu yang dianggap memiliki jasa besar dalam mendukung pengembangan satuan, korps, maupun organisasi militer secara keseluruhan.

Penghargaan tersebut tidak terbatas bagi prajurit aktif TNI. Dalam praktiknya, status Warga Kehormatan juga dapat diberikan kepada pejabat negara, tokoh sipil, pemimpin lembaga keamanan, militer negara sahabat, hingga tokoh internasional yang dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan TNI.

Tradisi tersebut berkembang seiring perjalanan sejarah TNI sebagai tentara rakyat yang lahir dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejak terbentuknya TNI pada 1947, berbagai korps dan satuan elite di lingkungan Angkatan Darat, Angkatan Laut, maupun Angkatan Udara mulai membangun tradisi penghormatan internal yang bertujuan memperkuat nilai-nilai korps, menumbuhkan rasa kebanggaan satuan, serta menjalin kedekatan dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan organisasi.

Melalui pemberian status kehormatan, satuan tidak hanya menyampaikan penghargaan, tetapi juga membangun ikatan simbolik yang mencerminkan kesamaan nilai, semangat pengabdian, dan komitmen terhadap kepentingan bangsa dan negara.

Baca Juga: Detik-Detik Senjata Meletus Tembus Pintu dan Mengenai Letda Inf. Jihad Ahmad

Berawal dari Korps Marinir

Dalam catatan sejarah militer Indonesia, salah satu tradisi Warga Kehormatan yang paling dikenal berasal dari Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

Jenderal Besar TNI A.H. Nasution tercatat sebagai tokoh pertama yang memperoleh pengangkatan sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir pada 15 November 1965. Penyematan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas perhatian, dukungan, dan kontribusinya terhadap perkembangan Korps Marinir.

Sejak saat itu, tradisi pengangkatan Warga Kehormatan menjadi bagian penting dari budaya korps di lingkungan militer Indonesia. Berbagai satuan elite kemudian mengadopsi pola serupa sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh yang dianggap memiliki hubungan historis maupun kontribusi nyata terhadap kemajuan satuan.

Seiring perkembangan zaman, makna Warga Kehormatan mengalami perluasan. Jika pada awalnya berfokus pada penghargaan internal korps, kini status tersebut juga menjadi instrumen diplomasi organisasi untuk mempererat hubungan antara TNI dengan berbagai elemen bangsa.

Korps Marinir, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat), serta sejumlah satuan elite lainnya memiliki tradisi pemberian baret kehormatan, brevet, piagam penghargaan, maupun simbol-simbol kebanggaan satuan kepada para penerima.

Baca Juga: TNI AL Desak Singapura Perkuat Patroli, Soroti Penyelundupan Lobster hingga Narkotika di Perbatasan

Penyematan atribut kehormatan tersebut menandakan bahwa penerima dianggap sebagai bagian dari keluarga besar korps yang bersangkutan. Karena itu, proses pemberiannya dilakukan secara selektif dan melalui pertimbangan institusional yang matang.

Hingga saat ini, tradisi pemberian Warga Kehormatan tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya militer Indonesia. Tradisi tersebut mencerminkan karakter TNI yang tidak hanya menghargai prestasi dan pengabdian prajurit di medan tugas, tetapi juga menghormati tokoh-tokoh yang berkontribusi dalam memperkuat sistem pertahanan negara.

Caption: Prajurit Korpasgat mengangkat KSAU Marsekal TNI M.Tonny Harjono (kiri), Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (kanan) usai acara pengukuhan Warga Kehormatan di Mako Korpasgat, Bandung.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.