HANKAM

TNI AU Siapkan 3.650 Personel untuk Bergabung dalam Pasukan Perdamaian Gaza

Ilustrasi personel TNI Angkatan Udara.
Ilustrasi personel TNI Angkatan Udara. (IDM/Septo Kun Wijaya)

Jakarta, IDM – TNI Angkatan Udara (TNI AU) menyiapkan sekitar 3.650 personel untuk bergabung dalam pasukan perdamaian Indonesia untuk Gaza, Palestina.

Rencana tersebut diungkap oleh Asisten Teritorial (Aster) KSAU Marsda TNI Palito Sitorus setelah acara "Sambung Rasa Bersama Media Massa" yang digelar di Balai Prajurit Ardhya Loka, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (27/11).

"Sekitar 3.650 orang. Nanti kita akan bergabung dengan pasukan (TNI) Angkatan Darat, (TNI) Angkatan Laut," jelas Palito.

Baca Juga: Banjir Aceh, TNI Kerahkan Super Hercules Angkut Material Tower Darurat untuk Pemulihan Kelistrikan

Selain personel, TNI AU juga dilaporkan menyiapkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) berupa pesawat C-130J Super Hercules asal Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Untuk diketahui, pesawat angkut TNI AU tersebut memang kerap dikerahkan dalam misi kemanusiaan untuk Gaza, salah satunya yakni penurunan logistik melalui udara (airdrop logistic) pada 2024 dan 2025.

Asisten Teritorial KSAU Marsda TNI Palito Sitorus
Asisten Teritorial KSAU Marsda TNI Palito Sitorus setelah acara "Sambung Rasa Bersama Media Massa". (IDM/Hugo Gasparo)

Palito menjelaskan, pada dasarnya TNI AU siap mengerahkan sejumlah C-130J sesuai dengan arahan pemerintah dan pimpinan, serta menyesuaikan jumlah pasukan yang akan dikirim ke Gaza, Palestina.

Baca Juga: TNI AL Amankan Dua Kapal Pengangkut Nikel yang Diduga Langgar Aturan di Perairan Mandiodo

"Kesiapan pesawat kita sudah ada, tergantung nanti permintaan dari pasukannya berapa yang akan kita kirimkan ke sana. Tapi yang jelas, personel sudah kita persiapkan baik itu penerbang, Korpasgat, kesehatan, dan lain sebagianya" imbuh Aster KSAU.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan, para prajurit yang akan dilibatkan dalam misi perdamaian ini tengah melalui serangkaian proses seleksi, mulai dari kesehatan, fisik, hingga psikologis.

Pemerintah berencana untuk mengerahkan sebanyak 20.000 personel TNI untuk misi tersebut. Agus menambahkan, puluhan ribu personel itu bakal terdiri dari tiga brigade komposit. Brigade tersebut terdiri dari satu Batalion Kesehatan, satu Batalion Zeni Konstruksi, Batalion Bantuan Mekanis.

Baca Juga: Intensifkan Pengamanan, TNI AD Pastikan tidak Ada Gangguan Pelaksanaan Nataru

"Untuk kontingen Pasukan Pemelihara Perdamaian sudah tahap seleksi. Kemudian rencana nanti dipimpin oleh jenderal bintang tiga," kata Agus di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (24/11).

Namun, hingga saat ini TNI masih menunggu waktu untuk mengirim pasukan. Sebagai salah satu persiapan, TNI disebut Jenderal Agus akan mengirim tim pendahulu untuk memastikan situasi dan penempatan pasukan di Gaza, Palestina. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.