TNI AL Siapkan Empat KCR Baru Gantikan Kapal Lama, Dua Unit Dibangun di Turki

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan kebutuhan mendesak TNI AL akan kapal cepat rudal (KCR) untuk menjaga efektivitas operasi maritim di wilayah strategis.
KCR jenis ini dioperasikan di jalur sempit, selat, dan wilayah yang membutuhkan respons cepat. Modernisasi armada KCR dinilai krusial agar kemampuan patroli, penindakan, dan pengerahan unsur tidak menurun.
Menurut Ali, efektivitas KCR masih tak tergantikan di medan tertentu. “Kalau bisa sebanyak-banyaknya, terutama di perairan-perairan yang sempit, maka kapal KCR ini sangat efektif,” ucapnya, usai acara peresmian nama KRI Belati-622, Jakarta, Rabu (1/10).
Baca Juga: KRI Belati-622 Pakai Sistem Senjata dan Sensor Turki, Perkuat Operasi Laut Indonesia Timur
Ia menyampaikan, sebagian armada KCR yang ada saat ini sudah harus diremajakan. “Kita membutuhkan untuk mengganti empat KCR yang lama. Kita juga masih butuh empat lagi yang baru,” kata Ali.
Dua Unit KCR Dibangun di Turki
Sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan tersebut, TNI AL juga menggandeng mitra luar negeri.
“Ada dua kapal cepat rudal yang sedang dibangun di Turki dan kita akan kerja sama yang baik dengan Angkatan Laut Turki maupun industri pertahanan yang ada di sana,” jelasnya.
Langkah tersebut, kata Ali, dinilai strategis untuk menjaga kesinambungan kekuatan sambil mempercepat proses pengadaan.
Baca Juga: TNI AL Luncurkan KRI Belati-622, Kapal Cepat Rudal Hybrid-Biofuel Pertama Buatan Dalam Negeri
Keterlibatan Turki dalam proyek ini bukan tanpa jejak. Di galangan Sefine Shipyard (TAIS Turki), telah dilakukan pemotongan baja pertama (first steel cutting) untuk KCR 70 meter pesanan Indonesia, pada 30 Oktober 2024. Kemudian, pada 17 Juli 2025 dilakukan upacara penanaman lunas (keel laying) sebagai simbol resmi memasuki tahap struktur kapal utama.
KCR 70 meter tersebut dirancang dengan kecepatan tinggi, melebihi 40 knot dalam konfigurasi desainnya, dengan kombinasi sistem propulsi modern yang memadukan kemampuan jelajah dan manuver cepat.
Produksi Dalam Negeri Tetap Diprioritaskan
Meski ada unsur pembangunan luar negeri, Ali tetap menegaskan komitmen penggunaan galangan dalam negeri.
Baca Juga: Persyaratan Tinggi-Umur Tamtama dan Bintara TNI AD Diubah, Wakil Panglima TNI: Butuh Banyak Pasukan
“Tidak hanya di PT Tesco, di dalam negeri juga pernah dilaksanakan di beberapa galangan kapal, di Batam misalnya ada Palindo, kemudian Karimun,” katanya.
Menurutnya, pengadaan masa depan akan diarahkan agar seluruh pembangunan KCR bisa dilaksanakan di dalam negeri, meski kerja sama teknologi asing tetap diperlukan dalam fase transisi.
“Nantinya, semuanya diupayakan bisa dibangun di dalam negeri semuanya untuk KCR. Tentunya dengan kerja sama dari beberapa industri pertahanan asing juga, tapi semua dilaksanakan di dalam negeri,” ujarnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































