HANKAM

TNI AL Luncurkan KRI Belati-622, Kapal Cepat Rudal Hybrid-Biofuel Pertama Buatan Dalam Negeri

KRI Belati-622
TNI AL meresmikan nama KRI Belati-622 sebagai calon KCR 60 meter terbaru, Jakarta, Rabu (1/10). (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – TNI AL resmi meluncurkan KRI Belati-622 yang menjadi kapal cepat rudal (KCR) 60 meter pertama di Indonesia, mengusung sistem penggerak hybrid berbasis biofuel. Kapal ini dibangun sepenuhnya oleh PT Tesco Indomaritim.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menyebut KRI Belati-622 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian alutsista nasional.

“Dengan teknologi hybrid, kapal ini sangat hemat bahan bakar dan mampu beroperasi lebih lama. Selain itu, dia bisa menggunakan biodiesel sehingga ramah lingkungan,” ujarnya, usai acara shipnaming di Jakarta, Rabu (1/10).

Ia juga menegaskan penyelesaian kapal sudah memasuki tahap akhir. “Delivery timenya pada akhir Oktober ini. Mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu,” kata Ali.

Baca Juga: Persyaratan Tinggi-Umur Tamtama dan Bintara TNI AD Diubah, Wakil Panglima TNI: Butuh Banyak Pasukan

Konsep Hybrid Pertama Buatan Dalam Negeri

Direktur Utama PT Tesco Indomaritim Jamin Basuki mengungkapkan kapal ini menggunakan sistem hybrid hasil riset lebih dari satu dekade. “Konsep hybrid ini belum pernah digunakan di Indonesia. Kami meneliti kombinasi ini sejak sekitar 10 tahun lalu, dan lahirlah sistem satu propeller dan dua waterjet,” jelasnya.

Ia menjelaskan, propeller digunakan untuk jarak jauh dan kecepatan sedang, sementara waterjet dioptimalkan untuk kecepatan tinggi.

“Propeller itu efisien di speed rendah, sedangkan waterjet untuk speed tinggi. Kombinasi ini yang membuat konsumsi BBM bisa sangat rendah,” katanya.

Jamin bahkan menyebut perhitungan efisiensinya telah diuji secara teoritis. “Kalau loitering speed 12 knot, pernah kami hitung bisa jalan Sabang sampai Merauke tanpa isi BBM,” tambahnya.

Baca Juga: Daftar Alutsista TNI AD yang Dipamerkan di HUT ke-80 TNI Monas

Mesin Heavy Duty dan Operasi Jarak Jauh

Jamin juga menjelaskan kapal ini memakai mesin heavy duty untuk menopang operasional panjang. “Mesin heavy duty ini TBO-nya bisa sampai 30 ribu jam operasi sebelum perlu general overhaul. Kapal light duty biasanya hanya 9 ribu jam,” tuturnya.

Ia berharap keterlibatan industrinya tetap berlanjut setelah kapal resmi dioperasikan. “Kapal ini juga kapal milik rakyat Indonesia, jadi kami berharap diberi izin untuk memantau performanya dari mesin sampai konstruksi,” ujarnya.

Adapun KRI Belati-622 diselesaikan dalam waktu 34 bulan oleh tenaga kerja lokal. Pembangunannya menjadi penanda kemandirian teknologi alutsista maritim sekaligus langkah menuju pengurangan ketergantungan impor. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.