TNI AL Matangkan Taktik 'Sea Denial' untuk Hadapi Konflik Global

Jakarta, IDM – TNI AL mematangkan taktik sea denial atau penolakan penggunaan laut oleh lawan untuk mengantisipasi ancaman perang berlarut di wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Strategi ini digarap agar pertahanan maritim tetap adaptif di tengah persaingan geopolitik global yang kian sulit diprediksi.
Penguatan taktik tersebut menjadi inti bahasan dalam kolokium perwira siswa Seskoal, pendidikan lanjutan perwira (Diklapa) XXXV, dan STTAL di Kodiklatal, Surabaya, Senin (11/5). Forum intelektual ini menuntut para perwira menghasilkan solusi konkret untuk menghadapi tantangan pertahanan laut masa depan.
Baca Juga: KSAU Pimpin Sertijab Enam Jabatan Strategis di TNI AU
Strategi Adaptif di Jalur ALKI
Komandan Kodiklatal Letjen (Mar) Nur Alamsyah, menegaskan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di jalur strategis ALKI membawa tanggung jawab besar. Menurutnya, TNI AL wajib membangun kemampuan sea control (kendali laut) dan sea denial secara berkelanjutan.
"Indonesia harus memiliki kesiapan pertahanan laut yang adaptif, fleksibel, dan berkelanjutan untuk menghadapi berbagai ancaman, mulai dari pelanggaran wilayah hingga ancaman hibrida," ujar Nur Alamsyah saat menjelaskan urgensi strategi tersebut dalam kolokium, dikutip dari keterangan Pen Kodiklatal, Rabu (13/5).
Ia menambahkan, penguasaan taktik ini sangat krusial untuk menjaga kepentingan nasional dari berbagai aktivitas ilegal maupun konflik intensitas rendah yang mungkin pecah di perairan Indonesia.
Baca Juga: TNI Rencana Bangun Bunker Pertahanan di Hutan Mojokerto
Integrasi Sensor Maritim
Selain urusan taktik, TNI AL memprioritaskan integrasi sensor maritim nasional untuk memperkuat deteksi dini. Nur Alamsyah mewanti-wanti pentingnya pemetaan ancaman yang akurat agar pimpinan bisa mengambil keputusan kilat dalam peperangan modern.
Kegiatan ini diharapkan melahirkan rekomendasi yang langsung bisa diterapkan oleh prajurit. Melalui hasil kolokium ini, TNI AL menargetkan pengawasan maritim yang lebih ketat seiring peringatan Hari Pendidikan TNI AL ke-80. (at)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































