Ketika berbicara tentang kekuatan laut, perhatian publik biasanya tertuju pada kapal perang, kapal selam, atau rudal. Padahal, sebelum seluruh alutsista tersebut dapat beroperasi secara efektif, ada satu fondasi yang sangat penting namun sering luput dari perhatian, yaitu data hidro-oseanografi.
TNI AL mematangkan taktik sea denial atau penolakan penggunaan laut oleh lawan untuk mengantisipasi ancaman perang berlarut di wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Strategi ini digarap agar pertahanan maritim tetap adaptif di tengah persaingan geopolitik global yang kian sulit diprediksi.
TNI AL mengungkap fakta krusial mengenai pergerakan kapal selam asing di wilayah Timur Indonesia. Wilayah laut dalam di sekitar perairan Wetar, Maluku Barat Daya, ternyata menjadi rute 'favorit' bagi kapal selam asing untuk melintas tanpa terdeteksi radar.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali, mengungkapkan rapat pimpinan (rapim) TNI AL 2025 akan membahas kebutuhan sensor bawah laut untuk ditempatkan di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, II, dan III.
Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan (Sekjen Kemhan) Marsdya (Purn) Donny Ermawan Taufanto mengungkapkan rencana pembangunan kekuatan wilayah pertahanan di laut Indonesia dengan menempatkan peluru kendali atau rudal.
Komandan Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksamana Madya Budi Purwanto, mengungkapkan saat ini pihaknya memprioritaskan kegiatan survei pemetaan laut di tiga wilayah Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).