HANKAM

Teka-teki Nama Calon Kapal Induk TNI AL, Benarkah akan Dinamai KRI Gajah Mada?

ITS Giuseppe Garibaldi
Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi. (Foto: Dok. seaforces.org)

Jakarta, IDM – TNI AL angkat bicara mengenai rumor identitas kapal induk yang akan memperkuat pertahanan maritim Indonesia. Fokus publik saat ini tertuju pada penamaan unsur KRI baru yang santer dikabarkan bakal mengusung nama tokoh pemersatu Nusantara, KRI Gajah Mada.

Isu ini menguat setelah Skuadron Udara 100 Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) membangun fasilitas simulasi geladak helikopter yang cukup masif. Pembangunan media instruksi tersebut bertujuan menyiapkan kemampuan penerbang dalam mengoperasikan helikopter di atas kapal perang modern yang memiliki cakupan operasi luas.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menyatakan, otoritas tertinggi belum menetapkan nama resmi untuk alutsista (alat utama sistem senjata) tersebut. Menurutnya, segala informasi yang beredar mengenai nama kapal saat ini belum memiliki dasar hukum yang sah.

"Terkait informasi penamaan unsur KRI baru yang beredar, dapat kami tegaskan bahwa hingga saat ini hal tersebut masih dalam tahap pembahasan dan pengkajian mendalam," ujar Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine, Kamis (14/5).

Baca Juga: TNI AU Tetapkan Empat Parameter untuk Uji Kesiapan Operasional Satuan

Target Operasional 2026

Upaya memperkuat kedaulatan maritim ini memang tengah dikebut oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui rencana akuisisi kapal induk asal Italia, ITS Giuseppe Garibaldi. Kapal sepanjang 180,2 meter tersebut ditargetkan sudah memperkuat jajaran armada RI sebelum peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 mendatang.

Meski berstatus hibah, pemerintah telah menyiapkan skema pembiayaan besar mencapai 450 juta dolar AS atau sekitar Rp7,6 triliun untuk proses akuisisi. Kapal dengan bobot 14.150 ton ini nantinya bakal dimodifikasi sebagai pangkalan udara terapung, terutama untuk mengoperasikan wahana udara nirawak (drone) serta dukungan logistik dan komando.

Baca Juga: 500 ASN di Sulsel Ditetapkan jadi Komcad, Wamenhan: Integrasi Kekuatan Militer dan Nirmiliter

Masih Tahap Pengkajian

Terkait nama "Gajah Mada" yang santer disebut, Tunggul menegaskan penentuan nama sebuah kapal perang merupakan proses strategis yang memerlukan pertimbangan matang. TNI AL memastikan belum ada keputusan final atau dokumen resmi yang mematenkan nama tersebut hingga proses kajian selesai.

"Hingga saat ini belum ada dasar penetapan resmi mengenai nama kapal perang tersebut," tegas Tunggul

Walaupun identitas kapal masih tertutup rapat, persiapan teknis terus dipacu melalui program familiarisasi (pengenalan adaptif) bagi para penerbang helikopter dan pesawat tanpa awak (UAV) TNI AL. Langkah ini menjadi sinyal kuat, TNI AL tengah menyiapkan lompatan besar dalam kultur operasi penerbangan laut yang terintegrasi dengan unsur kapal perang masa depan. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.