HANKAM

Tantangan Perang Dasar Laut RI: Percuma Beli Scorpene tanpa Ekosistem Utuh

Ilustrasi peperangan bawah laut.
Ilustrasi peperangan bawah laut. (Foto: Dok. US Navy)

Jakarta, IDM – Memboyong alutsista canggih kelas dunia belum menjamin ketangguhan pertahanan bawah air Indonesia. Langkah pemerintah membeli kapal selam Scorpène buatan Prancis hingga menggarap Kapal Selam Otonom Tanpa Awak (KSOT) di PT PAL bakal sia-sia jika tidak dibarengi ekosistem industri yang kuat.

Kepala Pusat Olah Yudha (Kapusodya) Seskoal Kolonel Laut (P) Bagus Jatmiko mengimbau pemerintah segera menyetop kebiasaan asal beli alutsista lalu lupa perawatan (procure-and-forget). Penguasaan perang dasar laut (seabed warfare) menuntut kesiapan teknologi terpadu, bukan sekadar menumpuk armada tempur mahal.

Baca Juga: Menang Tanpa Adu Kekuatan, Ini Alasan RI Harus Pakai Strategi Asimetris di Laut

"Penguasaan perang dasar laut tidak bisa selesai hanya dengan membeli kapal selam Scorpène atau memproduksi KSOT. Kita wajib membuang budaya procure-and-forget dan beralih membangun ekosistem pertahanan yang utuh," tegas Bagus dalam diskusi virtual di YouTube Semar Sentinel, Jakarta, Selasa (28/7).

Bagus memaparkan, ancaman di kedalaman laut kini makin nyata membidik infrastruktur vital nasional, seperti jaringan kabel serat optik bawah laut dan pipa energi antarpulau. Sabotase pada dua sarana krusial ini sanggup menghentikan roda ekonomi sekaligus memutus komunikasi nasional seketika.

Guna menangkal ancaman tersebut, Indonesia didesak menerapkan strategi sinergi lima elemen (Quintuple Helix). Konsep ini menggabungkan peran militer, pemerintah, industri pertahanan lokal, akademisi kampus, hingga masyarakat dan lingkungan.

"Model Quintuple Helix menyatukan kekuatan militer, riset kampus, dan industri dalam negeri. Tanpa sinergi lima elemen ini, pengoperasian alutsista bawah air akan terus bergantung pada pihak asing," ujar Bagus.

Baca Juga: Kemhan: 961,33 Hektare Kawasan Hutan akan Dimanfaatkan jadi Markas Yon TP

Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci utama untuk membangun sistem pemantauan bawah air (underwater domain awareness). Pemasangan sensor cerdas di titik sempit laut Indonesia harus disokong penuh oleh industri lokal, mulai dari penyediaan suku cadang hingga pemeliharaan rutin.

Bagus mendesak pemerintah segera menyusun peta jalan jangka panjang pertahanan dasar laut yang berorientasi pada kemandirian teknologi. Lewat ekosistem yang solid, investasi triliunan rupiah untuk pembelian kapal selam Scorpène baru bisa memberikan daya tangkal maksimal bagi maritim Indonesia.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.