Tanggapi Korut, AS dan Korsel Luncurkan Delapan Rudal di Lepas Pantai Timur Korsel

Jakarta, IDM - Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) meluncurkan delapan rudal
Jenis permukaan ke permukaan di Lepas Pantai Timur Korea Selatan, Senin (6/6).
Seperti dilansir dari Reuters, Peluncuran rudal tersebut dilakukan sebagai respons atas peluncuran delapan rudal balistik jarak pendek Korea Utara (Korut) pada Minggu (5/6).
Kementerian Pertahanan Korea Selatan melaporkan bahwa tindakan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan serta kesiapan untuk melancarkan serangan presisi terhadap peluncuran rudal Korut.
Sementara itu, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-Yeol mengatakan bahwa pihaknya akan bertindak tegas terhadap Korut. Selain itu, Yoon dan Biden telah sepakat untuk meningkatkan latihan militer bersama dan postur pencegahan bersama.
Disisi lain, Seorang pejabat dari Kementerian Pertahanan Korea Selatan membenarkan bahwa delapan sistem rudal taktis Angkatan Darat (ATACMS) telah ditembakkan serta penembak delapan rudal tersebut berlangsung selama 10 menit mulai pukul 04.45 waktu setempat (02.45 WIB) sebagai tanggapan atas delapan rudal yang ditembakkan oleh Korut pada Minggu.
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































