HANKAM

Selain Timah, TNI AL Amankan 9.300 Ton Monazite Bahan Nuklir di Babel

KRI Brawijaya-320
Tim Visit Board Search and Seizure (VBSS) bermanuver cepat menggunakan sea rider dengan latar belakang KRI Brawijaya-320 saat menggelar latihan di perairan Bangka Belitung, Minggu (15/2). Latihan ini digelar untuk mencegah akses kapal asing dan penyelundupan sumber daya alam strategis. (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – TNI AL tidak hanya menyita ratusan ton balok timah ilegal di Bangka Belitung. Satuan tugas TNI AL juga berhasil mengamankan "harta karun" strategis berupa ribuan ton mineral ikutan timah yang mengandung unsur radioaktif dan bernilai tinggi bagi industri masa depan.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul, membeberkan temuan mengejutkan tersebut. Ia merinci, TNI AL menyita total 10.762 ton logam tanah jarang atau rare earth elements dalam operasi gabungan.

"Kami mengamankan total 10.762 ton logam tanah jarang yang terdiri dari Monazite dan Zircon dari tangan para pelaku ilegal," ujar Tunggul dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (16/2).

Baca Juga: Bantah Kawal Seismik, Koarmada III: KRI Gulamah di Fakfak Murni Berlindung Cuaca Buruk

Bahan Baku Nuklir Masa Depan

Tunggul menjelaskan, dari total sitaan tersebut, porsi terbesar berupa Monazite yang mencapai 9.380 ton. Dunia mengenal mineral ini sebagai komoditas strategis karena mengandung Thorium, salah satu bahan baku vital untuk pengembangan energi nuklir dan teknologi tinggi.

Selain Monazite, petugas juga menyita 1.381 ton Zircon dan Ilmenite yang jumlahnya masih dalam proses penghitungan.

Nilai Ekonomi Belum Terhitung

Meski volume sitaan sangat fantastis, Tunggul menyebut pihaknya belum bisa menaksir nilai rupiah dari ribuan ton Monazite tersebut. Ia mengakui kendala regulasi menjadi penyebab utamanya.

"Kami belum dapat menghitung nilai Monazite dan logam tanah jarang lainnya sebagai pendapatan negara karena pemerintah belum menerbitkan regulasi harganya di Indonesia," jelas Tunggul.

Berbeda dengan logam tanah jarang, TNI AL sudah bisa menghitung nilai sitaan komoditas timah (balok, bijih, dan koin) yang mencapai Rp 173,6 miliar.

Baca Juga: Kolaborasi Kodam Jaya dengan DLH DKI Jakarta Kumpulkan 5, 5 Ton Limbah Elektronik

Operasi Jangka Panjang

Tunggul menambahkan, keberhasilan ini merupakan buah dari operasi intensif TNI AL bersama satuan lapangan (satlap) Tri Cakti sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Mereka menyasar praktik pertambangan ilegal (illegal mining) dan penyelundupan sumber daya alam lewat jalur laut maupun darat.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali bahkan telah meninjau langsung gunungan barang bukti tersebut usai memimpin latihan anti-akses dan anti-amfibi di Bangka Belitung, Minggu (15/2).

Ali menegaskan langkah ini mendukung penuh arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberantas kebocoran sumber daya alam yang merugikan negara. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.