Satgas 6 Marinir Borong Hasil Tani Warga Keikey

Jakarta, IDM – Komandan Satgas Yonif 6 Marinir, Letkol Mar Rismanto Manurung mengatakan kepada para prajurit TNI bahwa program borong hasil tani (Rosita) milik warga dapat membantu meringankan kesulitan masyarakat di daerah tugas.
Dalam rilis yang diterima Minggu (1/12) malam, kegiatan tersebut dilakukan saat Satgas Yonif 6 Marinir yang juga bagian dari Komando Operasi Habema di Papua melaksanakan tugas operasi pengamanan perbatasan mobil RI-PNG.
“Tim Patroli Satgas Yonif 6 Marinir melaksanakan rutinitas patroli pengamanan di wilayah Kampung Keikey, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo. Saat pelaksanaan patroli, para prajurit melintasi area Pasar Keikey dan melakukan program Rosita,” ujarnya.
Bermodalkan uang saku para prajurit, hasil tani yang dibeli kemudian dibawa untuk kemudian diolah menjadi makanan yang akan dikonsumsi secara bersama.
Baca Juga: Soal Putusan MK Terkait Kewenangan KPK, Kapuspen TNI: Siap Ikuti Arahan Pemerintah
Menilai kegiatan tersebut, Panglima Habema Brigjen TNI Lucky Avianto menilai, kegiatan Rosita mampu membantu perekonomian rakyat.
“mendukung upaya percepatan pembangunan di wilayah Papua,” ungkapnya. (nhn)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































