Rudal Exocet SM39 Kapal Selam Scorpene TNI AL Diprediksi Final Awal 2027

Paris, IDM – Kepastian pembelian peluru kendali (rudal) antikapal Exocet SM39 untuk dua unit kapal selam Scorpene Evolved milik TNI AL diprediksi baru rampung pada awal 2027. Produsen pertahanan asal Prancis, MBDA, menyebut kepastian kontrak pengadaan senjata tersebut sepenuhnya mengikuti ritme keputusan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Meskipun Indonesia sudah menyepakati pembelian dua unit kapal selam Scorpene Evolved buatan Naval Group beserta sistem peluncur rudalnya, kesepakatan paket amunisi rudal Exocet sampai saat ini memang belum resmi ditandatangani.
Head of Naval Systems MBDA, Stefano Bertuzzi, menyebut pengadaan persenjataan kapal selam butuh waktu dan perhitungan jadwal produksi yang matang. MBDA memperkirakan pengumuman resmi soal amunisi ini baru akan ada pada awal tahun mendatang.
Baca Juga: Alasan Marinir Siagakan Brigif 6 dan 4 Batalion Baru di Tangerang-Karawang
"Kemhan RI yang menentukan ritme program ini. Pandangan saya, kemungkinan awal tahun depan, awal 2027, baru ada pengumuman atau kepastian mengenai amunisinya," kata Stefano saat ditemui di Paris, Prancis, Senin (5/10).
Stefano menjelaskan MBDA menawarkan varian Exocet SM39 Block 2 Mod 2 ke TNI AL untuk menyesuaikan tenggat waktu pembuatan kapal selam Scorpene di Indonesia. Langkah ini diambil demi memastikan rudal bisa terkirim tepat waktu sesuai jadwal operasional armada.
"Untuk Indonesia, karena mempertimbangkan kerangka waktu program Scorpene, kami menawarkan SM39 Block 2 Mod 2. Varian ini merupakan generasi terbaru yang sedang aktif kami produksi di fasilitas Selles-Saint-Denis," ujar Stefano.
Penawaran varian SM39 Block 2 Mod 2 ini sekaligus menjawab pertanyaan publik soal absennya varian SM40 yang baru saja meluncur di pameran Euronaval. MBDA menilai varian SM40 ditujukan untuk program jangka panjang, sementara lini produksi SM39 sudah siap memenuhi kebutuhan mendesak TNI AL.
Stefano menegaskan penjualan amunisi kapal selam punya dinamika tersendiri karena selalu menempel pada paket penjualan unit kapal selamnya. Produksi rudal jenis ini dilakukan bertahap dan bergantung pada dukungan Angkatan Laut Prancis (French Navy) sebagai pengguna utama.
Baca Juga: Rotasi dan Mutasi TNI: Letjen Iwan Setiawan Pangkostrad, Letjen Tri Budi Utomo jadi Wakasad
"SM40 atau SM39 ini berjalan bersama kapal selamnya. Jika Naval Group menjual kapal selam, kami menjual rudalnya. Jadi penjualan kapal selam di seluruh dunia itu tidak terjadi setiap tahun, makanya berjalan bertahap," tutur Stefano.
Ia juga menambahkan, kesepakatan pembeli selalu terikat dengan kepastian tenggat pengiriman barang di pabrik.
"Masalahnya, saat kita berkomitmen dengan pembeli, ada tanggal pengiriman yang harus dipenuhi. Makanya untuk Indonesia kami menawarkan SM39 Block 2 Mod 2. Saat ini kalau datang ke pabrik MBDA di Selles-Saint-Denis, yang sedang ada di jalur produksi adalah SM39 Block 2 Mod 2," lanjutnya.
Stefano juga mengungkapkan bahwa hubungan kerja sama pertahanan kedua negara saat ini sedang berjalan intensif, di mana perwakilan TNI AL tengah melawat langsung ke Prancis untuk memantau kelanjutan proyek kapal selam tersebut.
"Delegasi TNI AL saat ini sedang berada di Prancis untuk kunjungan kerja terkait program kapal selam ini," ungkap Stefano.
Baca Juga: Daftar Lengkap Nomor Batalion dan Lokasi Markas Baru Brigif 6 Marinir
Rudal Exocet SM39 Block 2 Mod 2 sendiri merupakan amunisi antikapal khusus kapal selam yang meluncur dari bawah air memakai kapsul pelindung kedap udara sebelum terbang menuju sasaran. Varian ini membawa teknologi pemandu gelombang radio pintar (coherent seeker) yang menjaga akurasi tembakan dari gangguan sinyal atau acakan elektronik musuh (anti-jamming).
Di dalam negeri, pengerjaan fisik dua unit kapal selam Scorpene Evolved berbobot 1.800–2.800 ton tersebut sudah berjalan di Surabaya. PT PAL Indonesia bersama Naval Group memulai pemotongan baja pertama (first steel cutting) pada Juli 2026, lebih cepat dari target awal pada September 2026.
Percepatan ini bisa berjalan setelah PT PAL menyelesaikan tahap verifikasi kualifikasi (qualification section) untuk memastikan kesiapan fasilitas, manufaktur, dan standar mutu. Lewat skema alih teknologi komprehensif yang melibatkan puluhan insinyur lokal lulusan pelatihan di Prancis, PT PAL ditargetkan mampu membangun kapal selam secara utuh di dalam negeri (whole local production) sekaligus menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































