Prajurit TNI AD Selamatkan Bayi yang Dibuang di Selokan

Jakarta, IDM – Dua prajurit TNI AD yaitu Sersan Dua (Serda) Yanuar, prajurit dari Divisi Infanteri 1 Kostrad dan Serda Luis Prasetyo dari Yonif 320/Badak Putih berhasil menyelamatkan seseorang bayi laki-laki yang dibuang di selokan di depan Kantor TPSD Ranting Merdeka 3, Sukmajaya, Depok, Sabtu (9/11).
Dilansir keterangan dari Penkostrad, Minggu, (10/11) aksi Yanuar dan Luis ini mendapatkan apresiasi dari masyarakat sekitar, yang turut bersimpati terhadap nasib bayi tersebut.
Baca Juga: Selesai Perbaikan, Fregat KRI Oswald Siap Kembali Beroperasi
"Bayi malang tersebut ditemukan dalam kondisi menangis, kedinginan, dan tampak baru lahir," tulis keterangan Penkostrad.
Tanpa berpikir panjang, Yanuar dan Luis segera membawa bayi itu ke Puskesmas Sukmajaya Depok untuk mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: TNI Ambil Tindakan Perangi Judol di Kalangan Prajurit
"Berkat tindakan cepat dari kedua prajurit, bayi tersebut kini telah diselamatkan dan tengah mendapatkan perawatan," tulis Penkostrad.
Sementara itu hingga saat ini, pihak kepolisian telah dilibatkan untuk menyelidiki kasus pembuangan bayi ini guna menemukan pelaku yang bertanggungjawab. (rr)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































