Pesan Dudung di HUT Kopassus ke-70

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurachman mengatakan Kopassus dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara telah banyak menorehkan tinta-tinta emas pada sejarah panjang perjalanan Indonesia.
Hal itu disampaikan Dudung dalam upacara peringatan HUT ke-70 Kopassus di Makopasus, Cijantung, Jakarta Timur, Sabtu (16/4).
Peringatan HUT Kopassus merupakan momentum refleksi atas kelahiran, perjalanan, pengabdian dan evaluasi kinerja yang telah dilakukan. Sehingga nantinya, hal itu mampu memperbaiki kekurangan dan meningkatkan prestasi yang telah dicapai di masa yang akan datang, ujar Dudung.
"Kopassus telah membuat banyak negara menaruh hormat dan ingin belajar serta berlatih bersama. Teruslah belajar berlatih doktrin strategi dan taktik maupun teknik pertempuran khusus agar kehebatan itu tetap terjaga," ucap Dudung.
"Ingatlah sekecil apapun kebaikan yang kamu lakukan akan menjadi riak-riak yang tidak berujung. Namun sebaliknya sekecil apapun keburukan yang kamu lakukan menjadi awal bagi keburukan-keburukan. Untuk itu teruslah berbuat kebaikan dimanapun kalian berada", kata Dudung.
Sehingga pasukan elite TNI AD ini makin profesional dan dicintai rakyat Indonesia, tutup Dudung. (gin)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































