Penyiapan 20.000 Prajurit untuk Misi di Gaza, TNI Fokus Kapabilitas Kesehatan dan Zeni Konstruksi

Jakarta, IDM – TNI sedang menyiapkan prajurit untuk misi di Jalur Gaza, Palestina. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah mengatakan, penunjukan nama batalion tertentu masih menunggu mandat resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), keputusan pemerintah, serta struktur misi yang akan ditetapkan Dewan Keamanan PBB.
“Untuk misi Gaza, TNI menyiapkan kapabilitas inti kesehatan dan zeni konstruksi yang memang dibina untuk operasi kemanusiaan dan perdamaian,” ujar Freddy dalam keterangannya, dikutip Senin (17/11).
Penyiapan pasukan berupa kemampuan dan kapabilitas, bukan satuan secara spesifik.
Peralatan yang dipersiapkan juga mengikuti standar operasi kemanusiaan dan peacekeeping, seperti fasilitas rumah sakit lapangan, peralatan medis emergensi, ambulans, perlengkapan air bersih dan sanitasi, serta kemampuan konstruksi zeni, termasuk alat berat dan sarana rekonstruksi.
Baca Juga: 2.050 Bintara dan Tamtama Tiba di Tanah Sumatera, Siap Perkuat Yon Teritorial Pembangunan
“Jenis dan jumlahnya akan disesuaikan kembali setelah mandat PBB dan kebutuhan lapangan ditetapkan,” tutur Freddy.
Kapuspen TNI menambahkan, jumlah prajurit TNI yang disiapkan 20.000, seperti yang diminta Presiden RI Prabowo Subianto.
“Angka 20.000 adalah kapasitas kekuatan TNI yang telah disiapkan dalam kerangka dukungan perdamaian dan kemanusiaan,” kata Freddy.
Personel tersebut berasal dari satuan yang rutin menjalani pembinaan operasi militer selain perang (OMSP) dan misi PBB.
Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Lanud Adi Soemarmo Peroleh Bantuan Alsintan dari Pemda Karanganyar
“Sehingga kemampuan dasar, interoperabilitas, kesiapsiagaan logistik, dan operasi di berbagai medan sudah terbentuk,” ucap Kapuspen TNI.
Untuk latihan khusus, TNI tetap menunggu mandat final. Namun, secara prinsip, pasukan siap melaksanakan keputusan pemerintah secara profesional, proporsional, dan sesuai legal standing nasional dan internasional.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa rencana pengiriman pasukan ke Jalur Gaza dan sekitarnya masih digodok.
Sjafrie mengatakan, ada dua opsi mengirim pasukan perdamaian ke Gaza. Pertama, lewat persetujuan PBB. Kedua, lewat naungan organisasi internasional inisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga: TNI AD Kumpulkan 446 Komandan Satuan, Meminimalisir Ancaman Ideologi Bangsa
Belakangan, organisasi inisiasi Trump itu diketahui bernama pasukan stabilisasi internasional (ISF).
“Nah, ini yang memerlukan pembicaraan yang tentunya tidak dalam waktu singkat, tapi memerlukan satu kesepakatan bersama,” ujar Sjafrie selepas menerima kunjungan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Yordania Mayor Jenderal Pilot Yousef Ahmed Al-Hunaity di Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Jumat (14/11).
Sjafrie menyatakan, Indonesia akan terlibat dalam pasukan perdamaian atau pasukan stabilisasi apabila negara-negara yang punya kompetensi setuju atas keterlibatan RI. Negara-negara yang dimaksud adalah Arab Saudi, Yordania, Mesir, Qatar, dan Uni Emirat Arab. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































