Pecatan TNI AD Yotam Buriangge Jadi Eksekutor Pembantaian 7 Penambang Emas di Yahukimo

Jakarta, IDM - Eksekutor pembantaian terhadap 7 orang penambang di Kali I Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Senin (16/10) lalu ternyata adalah eks prajurit TNI bernama Yotam Buriangge. Hal ini diungkapkan Kasatgas Humas Damai Cartenz AKBP Bayu Suseno.
"Itu kelompok Egianus Kogoya. Namun, pimpinan lapanganya Yotam dan Asbak," katanya seperti dikutip dari JPNN, Kamis, (19/10).
Baca Juga: KSAD Resmi Tutup TMMD ke-118
Yotam Buriangge sendiri merupakan mantan prajurit dari Batalyon Infanteri 756/Wimane Sili (Yonif 756/MWS). Mantan anggota Kompi-C ini telah dipecat ini menghilang sejak 17 Desember 2021.
Yotam kabur sambil membawa satu pucuk senjata SS-2 V1, saat melaksanakan tugas jaga.
Baca Juga: Seskoau Gelar Seminar Akhir Pendidikan, Soroti Diplomasi Keantariksaan Indonesia
Kelompok Kriminal bersenjata pimpinan Egianus Kogoya menjadi dalang utama pembantaian tujuh penambang emas di Yahukimo, Papua Pegunungan.
Dalam peristiwa naas itu, tujuh penambang emas ilegal yang tewas dibantai secara sadis yakni Udin, Maun, Ardi, Hendra, Anju, Appe, dan Siger. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































