Paskhas, Misi Operasi Lintas Udara Pertama di Indonesia

Jakarta, IDM – Sejarah Kopasgat atau Pasukan Gerak Cepat berawal dari aksi terjun payung di Kalimantan. Ada 14 pasukan yang terjun payung pada 17 Oktober 1947, di Kotawaringin, Kalimantan. Hal ini yang mendasari sebagai tanggal lahir salah satuan elite TNI Angkatan Udara atau yang dikenal dengan Paskhas.
Dilansir dari Paskhas.mil.id, Senin (7/3) sejarah terbentuknya Paskhas berawal dari permintaan Gubernur Kalimantan, Mohammad Noor kepada Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Soerjadi Soerjadarma untuk menerjunkan pasukan payung di Kalimantan demi membantu perjuangan rakyat Kalimantan.
Pada 17 Oktober 1947, ada tiga belas anggota yang berhasil diterjunkan di Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka adalah Hari Hadi Soemantri (montir radio AURI asal Semarang), FM Soejoto (juru radio AURI asal Ponorogo), Iskandar (Pimpinan Pasukan), Ahmad Kosasih, Bachri, J. Bitak, C. Williem, Imanuel Nuhan, Amirudin, Ali Akbar, M. Dahlan, JH. Darius dan Marawi. Mereka belum mendapatkan pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (ground training). Satu orang lagi, Jamhani batal terjun karena takut.
Mereka terjun dari pesawat C-47 Dakota RI-002 yang diterbangkan oleh Bob Freeberg yang berkebangsaan Amerika sekaligus sebagai pemilik pesawat dengan ko-pilot Opsir (U) III Suhodo, dan jump master Opsir Muda (U) III Amir Hamzah. Bertindak sebagai penunjuk daerah penerjunan adalah Mayor (U) Tjilik Riwut putra asli Kalimantan. Ini adalah operasi lintas udara pertama dalam sejarah Indonesia.
Paskhas memiliki kekuatan sekitar 7.300 personel. Setiap anggota Paskhas harus memiliki kualifikasi para komando, ditambah dengan kualifikasi aspek udara khusus yang merujuk pada spesialisasinya. Paskhas terkenal dengan baret jingga yang digunakan angkatan ini saat masih bernama “Kopasgat” pada pertengahan tahun 1960-an.
Semboyan Paskhas adalah “Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana” yang memiliki arti “Menunaikan tugas tanpa menghitung untung dan ruginya”. Korpaskhas mendarmabaktikan dirinya di berbagai medan operasi militer baik di dalam negeri ataupun luar negeri, serta tugas-tugas lain di bidang kegiatan sosial.
Panglima TNI Andika Perkasa Ubah Nama Korpaskhas Jadi Kopasgat
Pada Senin (7/3) Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Panglima TNI Nomor Kep/66/I/2022 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI. Dalam SK yang diterbitkan Jumat (21/1) ini Andika juga mengubah nama menjadi satuan elite milik TNI Angkatan Udara Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) menjadi Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat).
Ada daftar nama dan jabatan 328 perwira tinggi TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan AU yang terkena rotasi jabatan. Pada urutan ke-260, nama Marsda Eris Widodo Yuliastono, dirotasi dari jabatan awal Dankorpaskhas menjadi Dankopasgat. (BFM)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































