Panglima TNI Tinjau Proyek Ketahanan Pangan di Papua Selatan

Jakarta, IDM – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melakukan kunjungan kerja ke Merauke, Provinsi Papua Selatan, Rabu (22/5). Meninjau lahan food estate hingga pompanisasi jadi beberapa agenda yang dilakukan Agus.
Melansir keterangan resmi Puspen TNI pada Kamis (23/5), tinjauan lahan itu berada di Kampung Nggutibob Sermayam, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke.
Baca Juga: Rampungkan Tahap Ground School, Puluhan Siswa SIP TNI AU Ikuti Bina Terbang
Adapun di wilayah tersebut terdapat 1.000 hektar lahan yang tercakup dalam Program Ketahanan Pangan Nasional seluas 1,2 juta hektar.
Setelah meninjau lahan food estate, Agus juga melanjutkan peninjauan proyek pompanisasi di Kampung Waninggapsay, Distrik Tanah Miring.
Baca Juga: Wamenhan RI: Turki Punya Peran Strategis untuk Penguatan Pertahanan Indonesia
Di wilayah tersebut, proyek pompanisasi terdiri dari 72 unit pompa yang tersebar di 42 titik dan mampu mengairi lahan seluas 4.285 hektar.
"Kunjungan ini menegaskan komitmen TNI untuk terus mendukung program strategis pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia," tulis Puspen TNI. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































