Panglima TNI Lakukan Kunjungan Kerja ke Australia

Jakarat, IDM - Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa beserta jajaran delegasi Tentara Nasional Indonesia melakukan kunjungan kerja di Sydney, Australia, Sabtu, (23/4).
Tempat pertama yang dikunjungi Andika adalah HMAS Sydney yaitu kapal perang paling canggih yang dioperasikan oleh Royal Australian Navy. Di kapal tersebut Andika dijamu makan malam oleh General Angus Campbell beserta jajaran Australian Defence Force (ADF).

"Saya sangat senang, Panglima TNI dan jajaran mengunjungi kami di kapal HMAS Sydney yang megah ini," ujar Campbell seperti dikutip dari Youtube Puspen TNI, Senin, (25/4).
Sesudah jamuan, Andika dan Campbell melakukan pertemuan membahas sejumlah program Australian Defence Force (ADF) Leadership Summit. Salah satunya berdiskusi tentang para prajurit yang sedang menempuh pendidikan di Australia.
Di akhir kunjungan Andika juga memberikan cinderamata untuk Campbell berupa lima tokoh wayang prajurit dalam legenda Indonesia. Cinderamata tersebut adalah persembahan untuk Campbell, agar dapat memperkuat kerja sama Indonesia dan Australia. (BFM)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































