Panglima TNI Bahas Stabilitas Keamanan Laut China Selatan dengan Jenderal Milley

Jakarta, IDM - Panglima TNI Laksamana Yudo Margono melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Rabu (21/6). Kunjungan tersebut juga dilakukan Yudo dalam rangka memenuhi undangan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Mark A. Milley.
Bertempat di Pentagon, ia bersama Jenderal Milley membahas sejumlah isu, termasuk upaya menjaga stabilitas Laut China Selatan.
Baca Juga: Belanda Tawarkan Kerja Sama terkait Sejarah dengan TNI AL
"Kerja sama antar angkatan bersenjata ini juga bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan kawasan LCS (Laut Cina Selatan) khususnya wilayah regional ASEAN," demikian tulis keterangan Puspen TNI, dikutip Senin (26/6).
Selain itu, keduanya juga membahas lebih lanjut terkait peluang kerja sama yang telah terjalin selama ini. Beberapa jenis kerja sama yang dibicarakan meliputi latihan dan pendidikan militer.
Baca Juga: Kunker ke AS, Panglima TNI Bahas Kerja Sama Militer
Dalam kunker tersebut, Yudo juga menyempatkan diri mengunjungi KBRI, bertemu dengan perwira TNI yang sedang menempuh pendidikan di AS serta melakukan napak tilas penyerangan Pearl Harbour. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































