Mantan Kepala Bais TNI Mayjen Nurdin Zainal Meninggal Dunia, Menhan Sjafrie Ucapkan Bela Sungkawa

Jakarta, IDM – Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Mayjen TNI (Purn) Nurdin Zainal wafat pada Senin (22/6).
Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI itu meninggal dunia pada usia 76 tahun.
Baca Juga: Salah Kaprah Kritik Militer: Merendahkan Bintara-Tamtama Itu Disinformasi
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin yang merupakan teman seangkatan Nurdin, melayat ke rumah duka almarhum.
“Atas nama pribadi dan Kementerian Pertahanan RI, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum,” tulis Sjafrie dalam unggahannya di akun Instagram @sjafrie.sjamsoedin.
Nurdin merupakan teman seangkatan Sjafrie dan Presiden RI Prabowo Subianto. Ketiganya lulus dari Akademi Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) pada 1974.
Selama berkarier di TNI, Nurdin pernah menjabat Atase Pertahanan RI di Den Haag, Komandan Korem (Danrem) 163/Wira Satya (1999-2000), Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Trikora (2003-2005), Asisten Intelijen Kepala Staf Umum (Asintel Kasum) TNI (2005), dan Kepala Bais TNI (2005-2006).
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































