HANKAM

Lengkapi Fasilitas Pembangunan Kasel, PT PAL Indonesia Gandeng Dua Mitra Strategis

PT PAL Indonesia
CMO PT PAL Indonesia Willgo Zainar memotong tumpeng sebagai simbol resminya kerja sama dengan dua mitra. Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan di PT PAL pada Kamis (19/4). (Foto: Dok. Humas PT PAL Indonesia)

Jakarta, IDM – PT PAL Indonesia melakukan penandatanganan kerja sama strategis dengan Syncrolift AS untuk pengadaan shiplift, serta dilakukan penyerahan dokumen strategis pembangunan dermaga (jetty) bersama PT PP (Persero) di PT PAL Indoensia, Surabaya, Kamis (18/4).

“Dengan penandatanganan kontrak bersama Syncrolift AS dan PT PP (Persero), kami menegaskan kembali komitmen kami untuk memperluas jangkauan kolaborasi internasional kami sambil tetap memperkuat infrastruktur lokal kami,” ungkap CMO PT PAL Indonesia Willgo Zainar dalam keterangan tertulis PT PAL Indonesia yang diterima redaksi IDM pada Jumat (19/4).

Fasilitas shiplift dan dermaga yang akan dibangun merupakan bagian dari infrastruktur utama untuk mendukung proses operasional bisnis PT PAL Indonesia khususnya pembangunan dan pemeliharaan kapal selam (kasel).

Baca Juga: Ditunjuk sebagai Kadispenau, Ini Rekam Jejak Penugasan Kolonel Pnb Ardi Syahri

Teknologi yang digunakan pada shiplift ini tergolong modern dengan spesifikasi umum seperti kemampuan normal lifting capacity 6000 Ton hingga maximum lifting capacity 9240 ton, transfer system total capacity 3690 ton dengan dimensi panjang platform 100 meter dilengkapi dengan penggerak electrical motor dan tersertifikasi oleh Lloyds Register.

“Kerja sama strategis ini akan menjadi catatan sejarah bagi industri pertahanan dalam upaya pemenuhan fasilitas industri guna meningkatkan kapabilitas bidang pembangunan dan pemeliharaan kapal selam” kata Willgo.

Selaras dengan fokus pemerintah terhadap kemandirian maka penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk ini salah satunya dapat dilihat dari platform shiplift yang secara mandiri dan sepenuhnya dibangun oleh PT PAL Indonesia.

Baca Juga: Koarmada I Rencana Ajukan Kajian untuk Penempatan OPV Italia

Dampak yang diharapkan dari pembangunan fasilitas shiplift dan dermaga ini adalah peningkatan kesiapan PT PAL Indonesia sebagai galangan kapal yang mendukung whole local production produk kapal selam serta peningkatan kapasitas dan kemampuan produksi PT PAL.

Seperti diketahui, pada 28 Maret 2014 lalu, PT PAL Indonesia telah menandatangani kontrak pembangunan kapal selam pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bekerja sama dengan mitra strategis global.

Sebelumnya PT PAL Indonesia juga telah menerima tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp.1,28 triliun untuk melengkapi fasilitas pembangunan kapal selam di antaranya adalah shiplift dan dermaga. (nhn)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.