KSAU : TNI AU Perlu Bangun Kekuatan Udara Berbasis Integrasi Data dan Konektivitas

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, menegaskan, menyikapi karakteristik perang masa depan yang bersifat pertempuran teknologi (perang generasi kelima), TNI AU harus melakukan transformasi digital, dengan membangun kekuatan udara berbasis integrasi data dan koneksitas, termasuk menyiapkan talent digital
“Karakter perang generasi kelima akan banyak bertumpu pada aksi atau ancaman non-kinetik. Dapat berupa disrupsi energi, sosial, ekonomi, hingga dis-informasi, sehingga TNI AU harus membangun kekuatan udara dengan berdayakan integrasi data dan konektivitas,” kata Fadjar.
Fadjar mengatakan hal tersebut, dalam keynote speaker pada seminar internasional Air Power HUT ke-76 TNI AU, di Puri Ardhya Garini, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (30/3).
Seminar yang mengangkat tema “Pembangunan Kekuatan Udara Nasional Untuk Menghadapi Ancaman Perang Generasi kelima”, menghadirkan enam narasumber dalam dan luar negeri. Mereka adakah Andi Widjayanto, (Gubernur Lemhannas), Marsda TNI Samsul Rizal (Pangkoopsud III), Group Captain Jason Baldock (Direktur Air And Space Power Centre Australia), Dr. Alban Sciascia (Direktur Semar Sentinel Pte Ltd. Perancis), Liutenan General (Ret) Steven M.Shepro ( Vice President Bussines and Figther, Mobility and Seurveilance and Panthom Works Fixed Wing (USA) dan Curie Maharani (Universitas Binus).
Sebagai forum akademis, Fadjar berharap seminar dapat menjadi embrio kebijakan strategis TNI AU dalam menyiapkan pembangunan kekuatan udara nasional untuk menghadapi ancaman pada era perang generasi kelima.

Lebih dari itu, Fadjar juga berharap seluruh peserta dan komponen bangsa dapat mengambil wawasan berharga serta membuka cakrawaka pandang dalam upaya bersama nembangun kekuatan udara nasional.
“Peserta seminar agar proaktif dalam memanfaatkan wadah akademis ini, sehingga memperkaya pengetahuan dan perspektif, khususnya bagi sumber daya manusia TNI AU sebagai kunci utama dalam mewujudkan Angkatan Udara yang disegani di kawasan,” ujar Fadjar.
Seminar diikuti secara ofline oleh dua ratus peserta, dan seribu orang secara online dari pejabat Kementerian dan Lembaga non Kementerian, pejabat Kemhan RI, Mabes TNI, Mabes TNI AD, TNI AL, TNI AU, Polri, Rektor Perguruan Tinggi, pimpinan BUMN, Komponen Cadangan, para Direktur Utama Industri Pertahanan Dalam Negeri, para Atase Pertahanan dan Atase Udara, para Pakar dan pengamat militer kedirgantaraan dalam dan luar negeri serta media massa. (gin)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































