KSAU Rotasi 4 Pati TNI AU

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menerima laporan kenaikan pangkat empat Perwira Tinggi (Pati) TNI AU di Ruang Kerja KSAU, Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (27/4).

Kenaikan pangkat empat Perwira Tinggi TNI AU tersebut, terdiri dari Marsma TNI Dedie Rosewan Semet (Pati Sahli KSAU Bid. Karsalem), Marsma TNI Agus Risnadi (Han) Pa Sahli Tk. II Poldagri Sahli Bid. Polkahamnas Panglima TNI), Marsma TNI Teguh Dharmawan (Kadisinfolahtaau), serta Marsma TNI Rolland Dulista G. Waha (Ta Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhanas).

Selain itu, Fadjar juga memberikan selamat kepada empat Perwira TNI AU yang naik pangkat. "Saya mengucapkan selamat dan bangga atas pencapaian kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi kepada para Perwira Tinggi," ujar Fadjar.
Sebelumnya, laporan kenaikan pangkat tersebut juga dilakukan di hari yang sama kepada Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa bersama dengan Perwira Tinggi TNI AD dan TNI AL.

Laporan kenaikan pangkat berdasarkan surat keputusan KSAU Nomor Sprin/1397/VI/2021. Tanggal 22 Juni 2021, perihal Kenaikan Pangkat ke dan Dalam Golongan Perwira Tinggi TNI. (BFM)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































