KSAU Hadiri Diskusi Panel IACC 2022 di Amerika Serikat

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menghadiri International Air Chiefs Conference 2022 (IACC) Panel Discussion yang berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (16/9).
IACC Panel Discussion yang dihadiri oleh 49 Kepala Staf Angkatan Udara dari berbagai negara tersebut, dibuka oleh US CSAF, Gen CQ Brown.
Diskusi panel diisi dengan dialog informal bertajuk Integrated by design yang menghadirkan tiga panelis yakni Steven Hedley (Rep Admin), Jessica Matthews (Dep Admin) dan James Clapper (Intel).

Sementara untuk sesi formal, kegiatan IACC dibagi dalam tiga sesi. Pertama, Distributed Operation : Executing Mission. Kedua, Operation in Today's Information Enviroment dan ketiga, Recruting, Retaining and Growing Talent.
Ketiga sesi tersebut diampu oleh beberapa panelis. Rangkaian diskusi itu diisi oleh pihak-pihak matra udara dari negara yang terlibat serta stakeholder terkait.
Selain memenuhi undangan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), kesempatan IACC juga digunakan Fadjar sebaik-baiknya. Disela kesempatan itu, Fadjar menjalin dialog billateral dengan pemimpin Angkatan Udara negara sahabat, termasuk Singapura. (un)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































