HANKAM

KSAL: Status Pengungsi Rohingnya di Indonesia Harus Diselidiki Sesuai Aturan Internasional

KSAL Laksamana Muhammad Ali
KSAL Laksamana Muhammad Ali usai upacara tabur bunga di Hari Dharma Samudra, Teluk Jakarta, Senin (15/1). (Foto: Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan pemerintah perlu menyelidiki status resmi pengungsi etnis Rohingya yang datang ke Indonesia.

"Karena sekarang sudah tegas ada niat dan upaya tindak pidana perdagangan orang (TPPO), nah, ini dikategorikan statusnya benar-benar pengungsi akibat perang atau imigran gelap? Itu yang harus diselidiki," kata Ali usai acara tabur bunga di Hari Dharma Samudra, Jakarta, Senin (15/1).

Menanggapi mudahnya kapal etnis Rohingnya masuk ke perairan Indonesia, Ali juga menjelaskan permasalahan utama pengungsi ini sesuai dengan aturan internasional yang menurutnya agak sulit, karena Indonesia harus menerima atau tidak.

Baca Juga: Ada Sarapan Pagi Lagi untuk Anak-anak Papua dari Pasukan Pandawa Kostrad

Oleh karena itu, Ali mengatakan TNI terus berupaya menangani pengungsi etnis Rohingya bersama pihak terkait hingga akhirnya masalah dapat diserahkan kepada Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR).

"Kalau pada aturan internasional, namanya pengungsi akibat dari peperangan, kekerasan, genosida, dan kegiatan lain itu tidak boleh ditolak," jelasnya.

Namun, setelah pemerintah mengetahui adanya dugaan TPPO, TNI mengambil langkah bersama pemangku kepentingan untuk memeriksa status atau penyebab pengungsi yang masuk ke wilayah perairan Indonesia.

Baca Juga: Kerahkan Pesawat Hercules, Ini Aksi Cepat Tanggap TNI AU Membantu Evakuasi Medis Warga di Papua

Sejumlah pihak yang terlibat dengan TNI untuk menjaga keamanan dan kedaulatan wilayah perairan Indonesia, yaitu Badan Keamanan Laut (Bakamla), Pol Laut, kepolisian Aceh, dan pihak Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Kerja sama tersebut, lanjut Ali, terus diperkuat agar dapat mengusut tuntas motif para pengungsi hingga menyelidiki para oknum yang membawa kepentingan pribadi.

"Kalau memang ini imigran gelap, kita halau. Beberapa kali KRI kita di Sabang, KRI Bontang dan beberapa KRI lainnya sekarang berjaga-jaga di perairan Aceh dan Sumatra Utara," tandas Ali. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.