KSAL Pimpin Rapat Persiapan Pengangkatan Panglima TNI sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir

Jakarta, IDM - Jelang pengangkatan Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menjadi warga kehormatan Korps Marinir, seluruh panitia mengikuti rapat kesiapan yang dipimpin Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, Rabu (3/8).
Dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Kamis (4/8), rapat yang dipimpin langsung Yudo tersebut, diikuti Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Widodo Dwi Purwanto, selaku penanggung jawab pengangkatan Panglima TNI sebagai warga kehormatan Korps Marinir secara tatap muka di KRI Makasar-590. Danpasmar 1 Brigjen TNI (Mar) Hermanto, juga mengikuti jalannya rapat kesiapan di Lobby Lanal Dabosingkep secara virtual.
Dalam rapat kesiapan, ia memaparkan kepada Yudo tentang kesiapan personel maupun material dalam mendukung dan menyukseskan rangkaian acara pengangkatan Panglima TNI menjadi warga kehormatan Korps Marinir.
Turut hadir bersama Hermanto di Lobby Lanal Dabo Singkep dalam rapat pengangkatan Panglima TNI menjadi warga kehormatan Korps Marinir, yakni Asops KSAL, Pangkoarmada 1, Asops Dankormar, Paban 3 Lat Sopsal, Asops Danpasmar 1, Kasubdispenum Dispen Kormar, Danlanal Dabo Singkep, Danpuslatpur 9. (at)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































