KRI Bontang-907 Berhasil Evakuasi Kapal Nelayan di Perbatasan Indonesia-Thailand

Jakarta, IDM - KRI Bontang-907 berhasil mengevakuasi KM Baru Hijrah saat melaksanakan operasi Siaga Sakti-24 di laut perbatasan Indonesia-Thailand, beberapa waktu lalu.
Mengutip keterangan Dispenal Sabtu (13/1), KM Baru Hijrah mengalami kerusakanan mesin dan terombang-ambing selama 12 hari. Temuan itu bermula saat prajurit KRI Bontang-907 mendeteksi adanya kapal penangkap ikan yang terapung di perairan tersebut.
Baca Juga: Satbravo 90 Kopasgat Unjuk Kemampuan Khusus di Hadapan Panglima TNI dan KSAU
Personel KRI Bontang-907 kemudian melakukan penarikan kapal menuju perairan Aceh selama dua hari. Selanjutnya KM Baru Hijrah diperbaiki di Pelabuhan Perikanan Kuala Idi, Aceh Timur.
Adapun operasi yang dilakukan oleh KRI Bontang-907 berada di bawah Komando Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada I (Danguspurla I).
Baca Juga: Panglima TNI Akan Bentuk Pokja Litbang untuk Supervisi Perlengkapan Operasi Prajurit
Dalam penyelamatan kapal tersebut, Letkol Laut (P) Lexy Effraim Dumais selaku Komandan KRI Bontang-907 juga berhasil melakukan langkah cepat dengan melakukan koordinasi dengan kepada pimpinan untuk melakukan penarikan KM Baru Hijrah ke daratan Aceh. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































