Kolat Penerbal Siapkan 15 Pengawak Smart Classroom dan Virtual Training Suites

Jakarta, IDM - 15 personel Penerbangan TNI AL yang berasal dari satuan kerja jajaran Puspenerbal, di antaranya Mako Puspenerbal, Kolat Penerbal, Wing Udara 2, dan Fasharkan Pesud, mengikuti pelatihan pengawak Smart Classroom dan Virtual Training Suites (VTS), Senin (15/8).
Kegiatan yang dibuka Komandan Kolat penerbal Letkol Laut (P) Gugus Wahyu S ini diharapkan pelatihan Smart Classroom dan VTS dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas pendukung pembelajaran siswa selama pelaksanaan kursus yang berhubungan dengan teknik Pesud.
"Smart Classroom dan VTS diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan profesionalisme para awak Pesud yang berkedudukan sebagai mekanik, teknik, dan flight engineer," ujarnya dikutip dari laman TNI AL, Selasa (16/8).
Gugus juga menekankan kepada peserta untuk memahami teori, pengetahuan dan keterampilan yang akan didapatkan sehingga optimalisasi sasaran, tujuan serta peningkatan efisiensi dan efektifitas pelatihan dapat tercapai. Kemudian, meningkatkan semangat belajar dan berlatih untuk menunjang tupoksi penerbangan TNI AL.
"Laksanakan kegiatan pelatihan alins/alongin Smart Classroom dan VTS dengan tetap menjaga protokol kesehatan," pungkasnya. (at)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































