Koki Andal KRI Banda Aceh-593, Masak untuk Ribuan Pemudik dengan Cita Rasa yang Nikmat

Jakarta, IDM – Suasana dapur KRI Banda Aceh-593 tampak sibuk saat redaksi Indonesia Defense Magazine mengunjunginya, Selasa (17/3). Tampak dua koki kepala dan empat prajurit tengah menyiapkan menu dalam tiga kategori, menu khusus untuk anak-anak, menu buka puasa dan sahur.
"Terkait logistik, KRI Banda Aceh memiliki empat departemen utama yaitu Navigasi, Bahari, Permesinan, dan Logistik. Departemen Logistik bertanggung jawab penuh atas penyiapan makanan. Saat ini, kami melayani sekitar 1.000 orang lebih di atas kapal. Bagi kami, jumlah ini sebenarnya masih tergolong sedikit karena kami pernah menangani hingga 3.000 pasukan. Kami melakukan penyesuaian pada titik-titik distribusi makanan agar warga sipil tidak merasa kesulitan, mengingat ruang makan di kapal perang tidak seluas kapal sipil dan memang diperuntukkan bagi anak buah kapal (ABK)," kata Komandan KRI Banda Aceh-593, Letkol Laut (P) Yanuar Rizky Wijaya.
Baca Juga: Mudik dengan KRI Banda Aceh: Kowal jadi Pemandu Khusus untuk Anak-anak dan Lansia
Benar saja yang dikatakan Yanuar, para koki ini terlihat cekatan dan andal dari menyiapkan bumbu, memotong sayur dan lauk hingga memasaknya.
Menu yang disajikan pun beragam dengan cita rasa yang nikmat. Ada ayam, telur, tahu, tempe, capcay, bihun hingga buah-buahan seperti kurma dan jeruk.

Sudah Terlatih dalam Pendidikan
Bagi Sersan Dua (Serda), Abu Sofyan menjadi koki di Departemen Logistik KRI Banda Aceh-593 adalah anugerah. Sejak ditunjuk dan mendapatkan sertifikasi koki ia sudah terbiasa menyiapkan makanan untuk ribuan prajurit termasuk untuk pemudik.

"Kalau di sini tidak ada standar (tekanan) karena sudah menjadi ketetapan waktu makan. Jadi kita sudah harus memanajemen waktu. Mengenai rasa dan komposisi menu, itu sebelum layar (berlayar) sudah disiapkan menunya oleh Perwira Departemen Logistik. Setelah disetujui, barulah kita belanja kebutuhan sesuai menu tersebut," kata Sofyan yang sudah bertugas tiga tahun di KRI Banda Aceh-593.
Ia menjelaskan untuk kurun waktu di laut dan persediaan semuanya sudah melalui perhitungan matang.

"Kita selalu pakai perhitungan. Waktu saya sekolah (kedinasan) pun diajarkan perhitungannya. Contoh beras, untuk 1.000 orang, sekali makan itu berapa? Rumusnya, 1.000 orang dibagi 0,3%. Nanti dapat hasilnya, misal 3 kuintal. Nah, 3 kuintal itu setara berapa karung untuk sekali masak, itu sudah ada hitungannya. Begitu pula contoh lauk (ayam), satu ekor ayam rata-rata dipotong menjadi 12 bagian. Jadi kalau ada 1.000 anggota dibagi 12, ketemu berapa ekor yang harus dibeli. Semuanya sudah jelas," kata Sofyan.
Baca Juga: Nyamannya Mudik Bersama KRI Banda Aceh, Melihat Senja hingga Nobar Film
Berdasarkan perhitungan tersebut persiapan logistik atau menu tidak asal ditampung.
"Menu disusun dan disetujui oleh departemen logistik sebelum kapal berangkat. Kemudian manajemen waktu, koki bekerja berdasarkan jadwal makan yang ketat agar konsistensi tetap terjaga. Termasuk presisi data dan pengadaan bahan makanan menggunakan rumus pasti (jumlah personel vs rasio kebutuhan) untuk menghindari kekurangan stok di laut," kata Sofyan. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































