Kisah KRI Sultan Iskandar Muda Hadapi Perang 12 Hari Israel-Iran di Lebanon

Jakarta, IDM – Misi perdamaian di Lebanon bukan tugas main-main. Nyawa jadi taruhannya. Hal ini dirasakan betul oleh para prajurit KRI Sultan Iskandar Muda-367 yang tergabung dalam Satgas MTF TNI Konga XXVII Unifil saat terjebak di tengah kecamuk perang udara antara Iran dan Israel.
Komandan Satgas (Dansatgas) MTF TNI Konga XXVII, Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, membagikan kisah mendebarkan tersebut. Momen paling kritis terjadi saat pecah perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 lalu.
Saat itu, KRI Sultan Iskandar Muda sedang berpatroli di perairan perbatasan Lebanon. Tanpa diduga, langit di atas kapal perang kebanggaan Indonesia itu berubah menjadi medan pertempuran.
Baca Juga: 8 Prajurit Marinir Korban Longsor Ditemukan, 15 Masih Dicari
"Kita sempat mengalami eskalasi tinggi saat perang 12 hari Iran dan Israel. Serangan dari Iran itu, rudal-rudal jelajah mereka offset (memutar) melewati Suriah, Lebanon, dan Laut Mediterania," ungkap Anugerah di Jakarta, Minggu (1/2).
Tepat di Atas Kepala
Anugerah menceritakan situasi yang sangat kacau. Iran tidak menembakkan rudal secara langsung (direct) ke Israel, melainkan memutar lewat laut untuk menghindari deteksi. Akibatnya, KRI Sultan Iskandar Muda yang sedang bertugas menjaga perdamaian justru berada di posisi paling berbahaya, yakni line of fire.
"Di situlah kami sedang patroli, dan kami menjadi tepat berada di bawah line of fire. Bisa dikatakan serangan lintasan rudal itu tepat berada di atas kepala kami," ceritanya dengan nada serius.
Baca Juga: Prajurit Marinir Jajal Senjata Mortir Digital
Situasi makin mencekam karena militer Israel tidak tinggal diam. Mereka meluncurkan sistem pertahanan udara (intercept) untuk menghancurkan rudal Iran tersebut. Ledakan demi ledakan terjadi tepat di langit tempat KRI Sultan Iskandar Muda berlayar.
"Aksi intercept atau pertahanan udara dari Israel pun terjadi di atas kita. Tanpa kita duga, eskalasi terjadi sangat singkat," tambahnya.
Manuver Tempur
Meski berada dalam situasi hidup dan mati, naluri tempur prajurit TNI AL langsung bekerja. Anugerah menegaskan, krunya tidak panik berlebihan, melainkan langsung menjalankan prosedur tempur (battle stations).
Baca Juga: Australia Berencana Hibahkan Drone ke Bakamla RI
"Alhamdulillah kita laksanakan prosedur yang setiap hari kita latihkan. Kita bermanuver untuk force protection (perlindungan) bagi kapal ini," tegasnya.
Prajurit KRI Sultan Iskandar Muda terus memantau gelombang serangan kedua belah pihak dan melaporkan situasi terkini ke markas Unifil (PBB). Pengalaman ini, menurut Anugerah, menjadi bukti bahwa prajurit TNI siap menghadapi situasi terburuk sekalipun.
"Ada rasa was-was, takut juga, kita manusia biasa. Tapi di satu sisi kita excited. Karena selama ini kita dilatih untuk bertempur, bukan hanya untuk damai," pungkasnya bangga. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































