Ketidakstabilan di Kawasan Perbatasan Jadi Skenario Latma Gema Bhakti 2022

Jakarta, IDM - TNI-USINDOPACOM dalam latihan bersama (latma) Gema Bhakti 2022, akan melaksanakan skenario keditakstabilan situasi negara di kawasan perbatasan dan operasi maritim.
The Adjutant General Hawaii National Guard Major General Kenneth Shiro Hara, mengatakan kedua militer TNI-USINDOPACOM akan bekerja bersama melakukan perencanaan operasional.
“Merespon krisis menggunakan the Multinational Forces Standard Operating Procedures,” ujarnya saat pembukaan Gema Bhakti ke-10, dikutip dari keterangan Puspen TNI, Selasa (13/9).
Sementara itu, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Agus Suhardi, menjelaskan latihan bersama Gema Bhakti adalah wujud untuk menjaga hubungan strategic comprehensive partnership, melalui peningkatan kerja sama di antara kedua negara.
Tema latihan pada tahun ini mengusung perencanaan Defense LED Operation dengan skenario yang telah disusun.
“Seluruh peserta akan berkreasi untuk berfikir melaksanakan proses perencanaan dalam menyiapkan Defense LED Operation dari pemahaman perspektif TNI,” kata Agus.
Gema Bhakti adalah latihan bersama antara TNI dan USINDOPACOM untuk meningkatkan interoperabilitas, stabilitas, dan keamanan kawasan melalui kemitraan bilateral dan multilateral. (at)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































