Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Akan Beli Senjata dari Pindad, Ini Jenisnya

Jakarta, IDM - Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut akan membeli senjata produksi PT Pindad untuk mendukung tugas pengawasan, penjagaan dan sebagai alat prasarana penunjang di atas kapal patrol Negara dalam melaksanakan penegakan hukum di laut dan di wilayah Pelabuhan.
Hal ini dikatakan Direktur Komersial PT Pindad, Atih Nurhayati saat menerima kunjungan rombongan KPLP di Auditorium Gd. Direktorat PT Pindad, Bandung, Jumat, (26/5).
"PT Pindad memiliki kemampuan untuk memproduksi dan mengembangkan produk-produk pertahanan keamanan seperti Senjata, Kendaraan Tempur dan Munisi serta Produk-Produk Industrial seperti Alat berat, Infrastruktur Perhubungan, dan Alat Pertanian.
Baca Juga: TNI bersama Angkatan Bersenjata Australia – Amerika Laksanakan Latihan Penanggulangan Bencana
PT Pindad juga merupakan salah satu perusahaan yang tergabung dalam Holding Industri Pertahanan, DEFEND ID. Mudah mudahan dengan adanya kerja sama hari ini dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi kebutuhan dan keamanan Negara,“ kata Atih Nurhayati.
Sementara itu Direktur KPLP, Rivolindo dalam sambutannya menyampaikan rasa terimakasihnya atas sambutan hangat yang sudah di berikan oleh PT Pindad.

“Kunjungan kami kesini dalam rangka menindak lanjuti hubungan kerja sama yang sudah terjalin selama ini antara PT Pindad dan KPLP terkait pengadaan senjata api di lingkungan KPLP. Tidak menutup kemungkinan juga apabila PT Pindad memproduksi produk – produk lain yang dapat menunjang tugas KPLP tentu kedepan nya akan kita kerja sama kan juga," kata Rivolindo.
Baca Juga: Tampil di LIMA ’23, JAT Suguhkan Beragam Manuver Udara di Hadapan Masyarakat Malaysia
Adapun jenis senjata yang akan digunakan oleh KPLP antara lain senjata api laras panjang SB2-V2 kaliber 5,56x44 mm dan juga Pistol P3A kaliber khusus 7,65 x 17 mm. Untuk SB2-V2 merupakan produk senapan laras panjang PT Pindad pengembangan dari produk SS (Senapan Serbu) dengan kaliber 5,56 x 44 mm/222” dan kapasitas magasen 30 butir. Secara dimensi, SB2-V2 memiliki panjang keseluruhan 930 mm dengan panjang laras 403 mm dan bobot kurang lebih 4,2 kg.
Secara spesifikasi SB2-V2 memiliki sistem kerja gas operated dengan mode penembakan tunggal serta memiliki mode pengaman melalui tuas pengatur tembak. SB2-V2 menggunakan alat bidik mekanik, yaitu pisir dan pejera serta kemampuan tembak efektif pada jarak 300 meter.
Baca Juga: Potret Prajurit Julu Siri Jalan Kaki 25 Km Disambut Antusias Warga di Pinggir Jalan
Selanjutnya adalah pistol P3A, senjata ringan jenis pistol dengan bobot yang ringan dengan kaliber khusus 7,65 x 17 mm. Didesain minimalis, P3A merupakan varian terkecil dari produk pistol PT Pindad dan memiliki kelebihan di ukuran yang ringkas. Secara dimensi, P3A memiliki panjang 180 mm dengan panjang laras 102 mm serta bobot 0,8 kg.
Pistol ini mudah untuk dibawa dan dapat disembunyikan di tubuh pengguna tanpa membatasi ruang gerak, sehingga sangat efektif untuk pertahanan diri, pertempuran jarak dekat hingga operasi khusus. Secara spesifikasi, P3A memiliki sistem picu double action dengan kapasitas magasen 10 peluru serta jarak tembak efektif 15 meter. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































