HANKAM

Kastaf Kormada I: Kemampuan “Blue Water Navy” Diproyeksikan untuk Operasi Jauh dari Wilayah Yurisdiksi Nasional

KRI Sultan Iskandar Muda-367
KRI Sultan Iskandar Muda-367 dengan helikopter Bell AB 212 berlatih di Perairan Mediterania, Lebanon. (Foto: Dok. Puspen TNI)

Jakarta, IDM – Kepala Staf Komando Armada (Kastaf Koarmada) I Laksma Arif Badrudin mengatakan bahwa TNI AL saat ini sedang bertransformasi menjadi blue water navy.

Ini diungkapkan Arif dalam webinar bertajuk “From Archipelagic Defence to Blue-Water Reach: Indonesia’s Naval Transition” yang digelar Semar Sentinel, Rabu (28/1).

Arif mengatakan, kekuatan blue water navy merupakan keniscayaan bagi Indonesia, yang menjadi negara di titik silang akses berbagai sumber daya maupun regional.

“Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, menghadapi persimpangan strategis. Dinamika Indo-Pasifik dan pentingnya jalur perhubungan laut dunia menuntut transformasi kekuatan laut yang signifikan,” ujar Arif.

Baca Juga: HUT ke-4, Koopsudnas Teguhkan Komitmen sebagai Ujung Tombak Operasi Udara TNI AU

Arif menyebutkan, pengalaman TNI AL dalam operasi pembebasan sandera kapal MV Sinar Kudus di Somalia menegaskan urgensi kemampuan proyeksi kekuatan laut di luar wilayah yurisdiksi nasional. Saat itu, kapal Indonesia tersebut dibajak perompak Somalia pada 2011.

“Kita belajar dari pengalaman sejarah, ketika Indonesia melalui TNI AL berhasil membebaskan sandera di MV Sinar Kudus,” tutur Arif.

“Ini memberi pelajaran berharga bahwa sangat penting bagi kita untuk tetap menegakan kedaulatan negara ini meskipun dilakukan di luar dari wilayah yurisdiksi nasional Indonesia,” kata dia.

Arif menekankan, Indonesia juga harus melindungi kepentingan maritim dan merespons krisis di luar batas negara.

Saat ini, TNI AL juga sedang giat melakukan modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan hadirnya kapal PPA dari Italia, pembangunan Fregat Merah Putih hingga kapal selam Scorpene.

“Ini suatu lompatan yang memungkinkan kita untuk bisa beroperasi jauh di wilayah yurisdiksi nasional Indonesia,” kata Arif.

Baca Juga: Letkol Petrus Paramayudo Prabowo Jabat Komandan Taipur Kostrad, Ini Prestasinya

Terlebih, lanjut Arif, Indonesia juga berencana mengakuisisi kapal induk Italia, ITS Giuseppe Garibaldi.

“Sehingga efektivitas dalam operasi jauh dari wilayah yurisdiksi nasional itu sangat memungkinkan,” ujar Arif.

Arif menegaskan bahwa kekuatan blue water navy diupayakan untuk menunjukan ke negara lain bahwa Indonesia memiliki kekuatan laut yang dapat diandalkan untuk menjamin netralitas Indonesia.

Sementara itu, Kepala Pusat Olah Yudha Sekolah Staf dan Komando TNI AL Kolonel Laut (P) Bagus Jatmiko yang juga bertindak sebagai narasumber webinar mengatakan, blue water navy merupakan keniscayaan dikarenakan bentuk karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan.

Blue water navy dikonsepkan sebagai spektrum yang tidak mematok ke satu titik tertentu sebagai indikasi pencapaian.

“Dalam spektrum paling rendah, bagaimana kita bisa memproyeksikan ke daerah-daerah milik kita sendiri. Kemudian dalam spektrum yang lebih tinggi, di mana proyeksi kekuatan itu bisa di regional atau wilayah. Spektrum terakhir, proyeksi kekuatan angkatan laut kita secara global, ke mana pun, di titik mana pun di seluruh dunia,” kata Bagus.

Baca Juga: Pangdam XVII/Cenderawasih Bersama Dekranas Dorong Penguatan UMKM Papua

Namun, ujar Bagus, kekuatan itu harus dipadukan secara kuantiatif dan kualitatif, tidak hanya sebatas banyaknya platform atau alutsista. Selain itu, dibutuhkan orkestrasi ekosistem nasional.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI AL (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengatakan bahwa arah pembangunan kekuatan TNI AL saat ini difokuskan untuk memperkuat posisi sebagai green water navy sebelum bertransformasi menuju blue water navy.

Green water navy merujuk pada kekuatan laut yang mampu beroperasi efektif di perairan nasional dan kawasan regional, dengan fokus pada pertahanan kedaulatan, patroli keamanan, serta operasi kemanusiaan di sekitar wilayah Indonesia.

Sementara blue water navy berarti angkatan laut yang dapat beroperasi lintas samudra dan secara global, umumnya didukung oleh kapal induk, kapal logistik jarak jauh, dan sistem tempur terintegrasi. (nma)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.