HANKAM

Kapal Perusak Rudal Berteknologi Aegis Milik Australia Muncul di Bali, Ada Apa?

Kapal HMAS Sydney
Kapal perusak rudal Angkatan Laut Australia HMAS Sydney (DDG 42) melintas menuju Dermaga Timur Pelabuhan Benoa, Bali, Minggu (27/9). (Foto: Dok. Kodaeral V)

Jakarta, IDM – Kapal perang perusak peluru kendali (guided missile destroyer) milik Angkatan Laut Australia, HMAS Sydney (DDG 42), bersandar di Dermaga Timur Pelabuhan Benoa, Bali, Minggu (27/9). Kedatangan kapal perang berteknologi sistem pertahanan udara Aegis asal Amerika Serikat ini membawa sekitar 180 hingga 200 prajurit tempur di Pulau Dewata.

Kehadiran armada bernomor lambung 42 ini bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar (refuel), perbekalan logistik (replenishment), serta memberi waktu istirahat (liberty) bagi para prajurit usai berlayar di lintasan samudra.

Baca Juga: Rentetan Kekerasan oleh OPM, Panglima TNI: Penyelesaian Masalah Papua Harus Kolaborasi

Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Denpasar Kolonel Laut (P) Ary Mahayasa bersama Atase Laut Australia Kapten Mark Daly menyambut langsung merapatnya kapal perang bertonase 7.000 ton tersebut. Tim penyandar kapal (merplug) Lanal Denpasar memandu manuver kapal saat merapat di dermaga.

Ary menjelaskan, persinggahan HMAS Sydney berjalan sesuai prosedur navigasi dan ketentuan hukum maritim yang berlaku.

"Kedatangan HMAS Sydney DDG42 merupakan bagian dari kegiatan persinggahan kapal dalam rangka pemenuhan kebutuhan bahan bakar, logistik, serta kesempatan istirahat bagi personel kapal selama berada di wilayah Bali," kata Ary, dikutip dari keterangan Dispen Kodaeral V, Selasa (29/9).

Ary menyebut persinggahan kapal kombatan ini menjadi bagian dari diplomasi militer kedua negara.

"Kehadiran kapal perang Australia tersebut sekaligus menjadi bagian dari hubungan kerja sama dan persahabatan yang telah terjalin antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia," tutur Ary.

Baca Juga: Perjelas Sasaran Malam Hari, Marinir Uji Senjata Pembidik Termal Asal Ceko

Secara spesifikasi, HMAS Sydney merupakan salah satu kapal perusak paling modern milik Angkatan Laut Australia (Royal Australian Navy). Kapal kelas Hobart sepanjang 147 meter ini mengusung sistem tempur Aegis buatan Amerika Serikat, yaitu radar canggih yang sanggup mengunci ratusan target di udara, permukaan, dan bawah laut secara bersamaan.

Dioperasikan sekitar 180 hingga 200 prajurit, HMAS Sydney dibekali sistem peluncur rudal vertikal (Vertical Launching System) Mk 41 untuk menembakkan rudal pertahanan udara Standard Missile-2 (SM-2) dan Evolved SeaSparrow Missile (ESSM). Kapal ini juga membawa rudal antikapal Harpoon, meriam utama Mk 45 kaliber 127 milimeter, torpedo, serta satu unit helikopter tempur maritim MH-60R Seahawk.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.