Kabel Bawah Laut Terancam? Pangkoarmada II Kumpul Bareng Pimpinan Angkatan Laut Dunia di Australia

Jakarta, IDM – Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) II Laksamana Muda I Gung Putu Alit Jaya menghadiri pertemuan elite para pemimpin armada dunia dalam Fleet Commander’s Conference (FCC) di Australian National Maritime Museum, Sydney, Minggu (22/3). Pertemuan ini menyoroti isu krusial mengenai perlindungan kabel bawah laut yang menjadi urat nadi komunikasi global.
Konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian latihan multilateral Kakadu 2026. Alit Jaya bergabung bersama para komandan armada dari sejumlah negara kawasan Indo-Pasifik, termasuk Singapura, India, Jepang, hingga Inggris.
Baca Juga: KRI RE Martadinata Bakal Duel Anti-Kapal Selam dengan 20 Negara di Australia
Keamanan Laut adalah Kunci Ekonomi
Dalam diskusi panel yang berlangsung hangat, para pemimpin angkatan laut dunia membedah perspektif regional terhadap keamanan maritim. Isu utama yang mencuri perhatian adalah perlindungan infrastruktur vital di dasar laut, terutama kabel bawah laut yang rentan terhadap gangguan.
Materi utama konferensi bertajuk “Strength at Sea: Security and Prosperity at Home” menegaskan bahwa kekuatan militer di laut berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat di darat. Tanpa keamanan wilayah dasar laut, stabilitas ekonomi sebuah negara bisa goyah.
Baca Juga: KRI Pulau Fani-731 Melesat ke Singapura, Siap Jinakkan Ranjau di Latma Pandu-26
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada II Kolonel Laut (P) Antonius Februar menyebut keikutsertaan Pangkoarmada II dalam ajang ini bertujuan untuk memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia.
"Melalui konferensi ini, TNI AL terus memperkuat kerja sama maritim internasional dan memastikan peran aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan Indo-Pasifik," ungkap Antonius, dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II.

Misi Tempur KRI RE Martadinata-331
TNI AL mengerahkan kapal fregat tercanggihnya, KRI Raden Eddy Martadinata-331, untuk bertarung dalam simulasi tempur di perairan Australia.
Baca Juga: Tingkatkan Kemampuan Pengawasan, Bakamla Dapat Hibah Peralatan Deteksi Nuklir
KRI RE Martadinata-331 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Andi Kristanto mengemban misi berat dalam fase laut (sea phase) pada 25-28 Maret mendatang. Kapal perusak kawal rudal ini bakal melakoni duel peperangan anti-kapal permukaan hingga perburuan kapal selam bersama 34 kapal perang asing lainnya.
Selain latihan tempur, kehadiran delegasi TNI AL di Sydney juga bertepatan dengan perayaan HUT ke-125 Angkatan Laut Australia. Konsistensi TNI AL mengirimkan unsur tempur dan pimpinan tertinggi armada sejak era 90-an ini membuktikan, posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam percaturan maritim dunia. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































