HANKAM

Empat Prajurit KRI Bima Suci Jalani Upacara Kenaikan Pangkat

Empat Prajurit KRI Bima Suci Jalani Upacara Kenaikan Pangkat
Dok: Dispen Koarmada II

Jakarta, IDM - Komandan KRI Bima Suci Letkol Laut (P) M Sati Lubis, memimpin upacara kenaikan pangkat empat prajurit KRI Bima Suci di atas geladak kapal yang saat ini sedang lego jangkar di Perairan Darwin, Australia, Sabtu (1/10).

Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, Senin (3/10), keempat prajurit yang naik pangkat tersebut adalah Palaksa KRI Bima Suci Letkol Laut (P) Bambang Rudi Purwanto, naik pangkat dari Mayor ke Letkol, Lettu Laut (P) Duna Daniswara dari Letda ke Lettu.

Kemudian, Lettu Laut (E/W) Indah Dwi Utami dari Letda menjadi Lettu, dan Kopda LPU Puguh Andik dari KLK naik menjadi Kopda.

Dalam kesempatan ini, Sati Lubis menyampaikan jika kenaikan pangkat adalah wujud pengakuan dan penghargaan negara atas prestasi yang ditunjukan prajurit dalam melaksanakan tugas di kapal maupun pangkalan, sekaligus menjadi suatu kehormatan bagi setiap prajurit yang naik pangkat.

"Sehingga kenaikan pangkat juga diharapkan mampu menjadi sarana motivasi bagi prajurit untuk meningkatkan kinerja dengan sebaik-baiknya," ujar Sati Lubis yang juga menjabat sebagai Komandan Satgas Kartika Jala Krida (KJK) 2022. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.