Eks Danrem 012/Teuku Umar Jabat Danjen Kopassus

Jakarta, IDM - Eks Komandan Korem (Danrem) 012/Teuku Umar, Aceh Barat, Brigjen Djon Afriandi ditunjuk Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), pasukan elite dari TNI AD.
Djon yang lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, 51 tahun yang lalu ini cukup lama mengemban tugas sebagai Danrem 012/Teuku Umar yaitu periode20 Juni 2020-17 Februari 2022. Sesudah itu ia menjabat sebagai Komandan Resimen Taruna (Danmentar) Akmil pada 2022-2023.
Baca Juga: Nama 28 Perwira Tinggi TNI AD yang Dirotasi dan Mutasi oleh Panglima TNI
Djon merupakan lulusan terbaik Akademi Militer atau Adhi Makayasa pada 1995. Saat ini, Djon menjabat Staf Khusus Kepala Staf TNI AD.
Jabatan di lingkungan Kopassus sebenarnya bukan hal baru untuk Djon. Tercatat Djon berpengalaman di grup 1 (Para Komando) Kopassus. Ia beberapa kali mengemban jabatan strategis di grup 1, seperti Komandan Batalyon 13 Grup 1 Kopassus dan Komandan Grup 1 Kopassus.
Baca Juga: KSAD: 18 Satuan TNI AD Akan Ditempatkan di Ibu Kota Nusantara
Djon juga pernah menjabat sebagai Danden 1 Grup A Paspampres, Wakil Komandan Grup A Paspampres, dan Asisten Operasi Danjen Kopassus. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































