Dari Jerman Lewat Atlantik, KRI Canopus-936 TNI AL Singgah di Spanyol

Jakarta, IDM – Kapal survei terbaru milik TNI AL, KRI Canopus-936, terus melaju dalam misi pelayaran perdana menuju tanah air. Setelah membelah ganasnya Samudra Atlantik dari Jerman, kapal bantu hidro-oseanografi (BHO) canggih ini terpantau telah bersandar di Las Palmas, Gran Canaria, Spanyol, Senin (23/3).
Persinggahan di wilayah otonom Spanyol yang terletak di lepas pantai barat laut Afrika ini menjadi etape penting bagi 93 prajurit pilihan yang mengawaki kapal tersebut. Selama dua hari di Las Palmas, KRI Canopus-936 melakukan pengisian perbekalan sekaligus memperkuat diplomasi maritim.
Komandan KRI Canopus-936, Kolonel Laut (P) Indragiri Yani W., melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Komandan Komando Angkatan Laut Kepulauan Canary, Laksamana Muda Santiago de Colsa Trueba.
Baca Juga: 7 Satuan TNI AU Wilayah Yogyakarta Gelar Bakti Sosial Jelang HUT ke-80
Berdasarkan pantauan data maritim terbaru, KRI Canopus-936 telah menyelesaikan etape I yang menantang. Kapal ini bertolak dari galangan Abeking & Rasmussen di Lemwerder, Jerman, pada 14 Maret, melintasi Laut Utara, Selat Inggris, hingga menerjang ombak Teluk Biscay sebelum akhirnya masuk ke Samudra Atlantik Utara.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama Tunggul menjelaskan kondisi teknis kapal menjadi prioritas selama persinggahan ini.
"Sesuai arahan KSAL Laksamana Muhammad Ali, prajurit KRI Canopus-936 memanfaatkan waktu sandar untuk pemantapan kondisi teknis. Mulai dari sistem permesinan hingga kesiapan persenjataan, semua diperiksa menyeluruh untuk memastikan keamanan pelayaran etape berikutnya," ujar Tunggul dalam keterangannya, dikutip Sabtu (28/3).

Setelah dari Spanyol, KRI Canopus-936 dijadwalkan melanjutkan pelayaran etape II. Tujuan berikutnya adalah Lagos, Nigeria, mengikuti jejak rute yang sebelumnya juga dilalui oleh kapal patroli KRI Prabu Siliwangi-321.
Baca Juga: Airbus A400M Unit Kedua Pesanan Indonesia Tiba di Lanud Halim Perdanakusuma
Teknologi Robotik KRI Canopus-936
Kehadiran KRI Canopus-936 menjadi lompatan besar bagi Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal). Kapal yang pembangunannya memakan waktu tiga tahun ini merupakan hasil kolaborasi apik antara galangan Jerman dengan sentuhan tangan anak bangsa dari PT Palindo Marine, Batam.
Bukan kapal perang biasa, KRI Canopus-936 membawa "senjata" berupa teknologi riset bawah laut kelas dunia, antara lain:
- Wahana Bawah Air Otonom (AUV): kendaraan bawah air yang bergerak otomatis tanpa awak.
- Wahana Bawah Air Kendali Jarak Jauh (ROV): robot bawah air yang dikendalikan kru melalui kabel dan kamera.
- Pesawat Nirawak (UAV): drone untuk pemantauan dari udara.
Baca Juga: Menhan Sjafrie akan Pimpin Upacara Pemakaman Juwono Sudarsono di TMP Kalibata
Target Tiba di Indonesia
KRI Canopus-936 diprediksi akan tiba di Indonesia pada pertengahan April atau Mei 2026. Kehadirannya akan melengkapi kekuatan alutsista TNI AL tahun ini, berbarengan dengan tibanya unit-unit baru lainnya yang sedang dalam perjalanan lintas samudra.
Pelayaran lintas benua ini membuktikan, personel TNI AL mampu mengoperasikan kapal dengan teknologi paling mutakhir sekalipun, melintasi ribuan mil laut demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































