HANKAM

Dari Gallipoli ke Ambon, Jejak Sejarah Hari ANZAC yang Tetap Terjaga di Maluku

Prasasti
Prasasti peringatan bagi para prajurit Australia yang wafat dan dimakamkan di Commonwealth War Graves Cemetery, Ambon, Maluku. (Foto: Dok. Indonesia Kaya)

Jakarta, IDM – Langit Ambon masih gelap saat jajaran TNI AL dan delegasi Australia-Selandia Baru berkumpul di Pandan Kasturi, Sabtu (25/4). Di bawah keremangan fajar Commonwealth War Graves Cemetery, mereka menggelar upacara untuk memperingati Hari ANZAC ke-111, sebuah momen yang mengikat ingatan sejarah antara palagan di Turki, Australia, dan bumi Maluku.

Peringatan ini merujuk pada pendaratan besar pasukan ANZAC (Australian and New Zealand Army Corps) di Semenanjung Gallipoli, Turki, pada 25 April 1915. Meski misi Perang Dunia I tersebut gagal secara taktis, peristiwa itu menjadi momen kelahiran identitas nasional Australia. Semangat heroisme ini kemudian mendarat kuat di Ambon lewat jejak pasukan Gull Force dari Batalion 2/21 Australia yang bertempur habis-habisan menahan invasi Jepang pada Februari 1942.

Baca Juga: Mayjen TNI Febriel: Persit KCK jadi Kekuatan Moral di Balik Tugas Prajurit

Kala itu, pasukan Australia bahu-membahu bersama tentara Belanda mempertahankan titik vital seperti Bandara Laha dan Kudamati. Namun, karena kalah jumlah, banyak prajurit Australia yang gugur dalam pertempuran atau dieksekusi secara tragis sebagai tawanan perang.

Kaitan sejarah yang mendalam inilah yang membawa langkah Asisten Intelijen (Asintel) Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Dankodaeral) IX, Kolonel Laut (KH) Iwan Hariwanto, hadir di tengah barisan nisan putih pagi tadi. Mewakili Dankodaeral IX Laksda Hanarko Djodi Pamungkas, ia meletakkan karangan bunga di monumen utama sebagai bentuk penghormatan TNI AL terhadap 1.956 prajurit sekutu yang kini bersemayam abadi di tanah Ambon.

Kodaeral IX
Kodaeral IX bersama delegasi Australia beri hormat di depan karangan bunga ANZAC Day Ambon, Maluku, Sabtu (25/4). (Foto: Dok. Dispen Kodaeral IX)

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Kodaeral IX, Kolonel Laut (KH) Rohman Arif, menjelaskan kehadiran TNI AL merupakan langkah nyata untuk memperkuat diplomasi pertahanan melalui jalur sejarah. Bagi TNI AL, menghargai pengorbanan masa lalu adalah instrumen penting dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Pasifik saat ini.

Baca Juga: Segera Tiba di Indonesia, KRI Canopus-936 TNI AL Selesaikan Etape Terakhir di Mauritius

"Upacara ini bukan sekadar seremoni rutin, tapi cara mengenang nilai perjuangan mulai dari tragedi Gallipoli hingga pertempuran di Maluku. TNI AL, khususnya Kodaeral IX, terus memupuk hubungan bilateral dan kerja sama maritim dengan Australia serta Selandia Baru lewat penghormatan sejarah seperti ini," ungkap Rohman, dikutip dari keterangan Dispen Kodaeral IX.

Prosesi yang berlangsung taktis ini ditutup dengan tiupan terompet Last Post, nada penghormatan terakhir bagi prajurit yang gugur. Melalui Hari ANZAC, Ambon kembali membuktikan perannya sebagai simpul penting dalam peta diplomasi militer internasional di wilayah timur Indonesia. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.