Blak-blakan Komandan KRI SIM-367 Saat Rudal Iran-Israel Seliweran: Was-was tapi Excited

Jakarta, IDM – Perasaan was-was menyelimuti prajurit KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 saat langit Mediterania mendadak membara. Di balik seragam loreng dan wajah tegar mereka, terselip rasa manusiawi ketika rudal-rudal Iran dan Israel saling tangkis tepat di atas dek kapal.
Komandan KRI SIM-367, Letkol Laut (P) Anugerah Annurullah, blak-blakan menceritakan kondisi psikologis pasukannya saat terjebak dalam perang 12 hari tersebut. Berada tepat di jalur lintasan tembak (line of fire), maut seolah hanya berjarak sekian meter dari kepala mereka.
"Kita tidak memungkiri bahwa pada saat pertama kita mendeteksi kejadian itu dan tepat berada di atas kepala kita, itu perasaan berkecamuk. Ada rasa khawatir, ada rasa was-was, ada rasa takut juga, kita juga manusia itu hal yang wajar," ungkap Anugerah saat berbincang mengenai momen kritis tersebut, baru-baru ini.
Baca Juga: Bedah Taktik Perang Rusia-Ukraina, Koarmada II Siapkan Strategi Baru untuk Laut RI
Antara Takut dan Adrenalin
Meski sempat diliputi rasa takut, Anugerah menyebut suasana di dalam kapal justru berubah menjadi antusiasme yang tinggi. Adrenalin prajurit terpacu karena situasi ekstrem ini menjadi pembuktian dari latihan berat yang mereka jalani selama bertahun-tahun.
"Tapi di satu sisi kita excited (bersemangat). Karena selama ini kita dilatih untuk ini. Kita tidak dilatih untuk damai, kita dilatih untuk bertempur, untuk menghadapi situasi-situasi seperti itu," ujarnya.
Perasaan berkecamuk itu segera berganti dengan fokus penuh saat alarm posisi tempur (battle stations) menggema. Rasa gugup yang sempat muncul justru berubah menjadi energi bagi kru untuk melaksanakan prosedur penyelamatan kapal dengan presisi.
Baca Juga: Kesiapan Rudal KRI Sultan Iskandar Muda Hadapi Konflik Iran-Israel di Mediterania
Siap Hadapi Kondisi Terburuk
Anugerah menekankan, mental baja prajurit TNI AL memang sudah dipersiapkan untuk kondisi terburuk. Pengalaman menghadapi lintasan rudal asli, bukan lagi sekadar simulasi, memberikan kebanggaan tersendiri bagi seluruh personel yang bertugas.
"Makanya begitu situasi meningkat, di samping kita juga merasakan nervous (gugup), tapi kita juga sangat bersemangat untuk melakukan aksi lanjut yang bisa kita lakukan," pungkas Anugerah.
Kini, 120 prajurit yang tergabung satgas Maritim Task Force (MTF) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXVII- P Unifil tersebut telah kembali ke tanah air dan disambut oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali di Jakarta, Minggu (1/2). Mereka pulang membawa pengakuan dunia, mental prajurit Indonesia tetap kokoh meski berada di bawah bayang-bayang rudal lawan. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































