Belajar dari Kasus Mid-Air Collision di AS, Puspenerbal Perketat Prosedur Penerbangan

Jakarta, IDM – Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) memperketat prosedur penerbangan sebagai langkah antisipasi potensi insiden di udara.
Langkah tersebut diambil usai mempelajari kasus tabrakan di udara (mid-air collision) antara helikopter militer dan pesawat sipil yang terjadi di atas Sungai Potomac, Amerika Serikat (AS), beberapa waktu lalu.
Wing Udara 2 Puspenerbal pun menggelar pertemuan di Lanudal Juanda, Sidoarjo, Kamis (14/8) yang membahas prosedur keamanan penerbangan sekaligus membedah kronologi dan penyebab kecelakaan fatal di AS.
Baca Juga: Kopasgat-US PAT SOFLE Tingkatkan Kemampuan Operasi Bersama di DAGR 2025
Kepala Seksi Keselamatan Terbang dan Kerja (Kasi Lambangja) Wing Udara 2, Mayor Laut (P) Panji Yustiaji, memaparkan insiden mid-air collision di AS dipicu oleh kesalahan koordinasi dan rendahnya situational awareness kru, yang berujung pada korban jiwa dan kerusakan parah.
“Dari kasus ini, kita belajar pentingnya komunikasi yang jelas, kepatuhan penuh pada prosedur, serta kewaspadaan di setiap fase penerbangan,” ujarnya, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal, Jumat (15/8).
Sementara Komandan Wing Udara 2, Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah, menegaskan keselamatan penerbangan adalah tanggung jawab bersama. Ia meminta seluruh personel untuk membangun budaya asertif, di mana setiap kejadian sekecil apa pun harus dicatat dan dilaporkan.
“Satu kelalaian kecil bisa berdampak besar. Koordinasi, kewaspadaan, dan keterbukaan untuk saling mengingatkan adalah kunci utama mencegah insiden,” tegasnya.
Baca Juga: Akademi Militer Kini Punya Sarana Latihan Simulasi Helikopter
Dengan pembelajaran dari kasus internasional tersebut, Adam berharap seluruh jajaran Puspenerbal dapat meningkatkan disiplin, keterampilan, dan kepekaan dalam setiap misi, sehingga keselamatan penerbangan TNI AL tetap terjaga di seluruh wilayah operasional.
Insiden mid-air collision di Potomac, AS
Pada 29 Januari 2025, pesawat penumpang Bombardier CRJ-700 milik American Airlines menabrak helikopter militer UH-60 Black Hawk di atas Sungai Potomac, tak jauh dari Bandara Ronald Reagan, Washington DC. Seluruh 67 orang di kedua pesawat tewas.
Baca Juga: Panglima TNI Audiensi dengan Agum Gumelar, Bahas Kemitraan TNI-Pepabri
Investigasi NTSB menyimpulkan tabrakan dipicu kombinasi kesalahan koordinasi, gangguan komunikasi radio, altimeter helikopter yang rusak, dan rendahnya kesadaran situational para kru. Ruang udara padat di sekitar bandara memperburuk situasi, sementara jalur penerbangan helikopter berpotongan dengan jalur pesawat komersial saat pendekatan.
FAA dikritik karena mengabaikan peringatan bahaya serupa selama bertahun-tahun. Insiden ini mendorong penerapan teknologi ADS-B pada helikopter militer di area tersebut, penutupan rute saat landasan tertentu aktif, dan restrukturisasi jalur penerbangan untuk mencegah persilangan dengan pesawat sipil.
Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan prosedur, koordinasi yang solid, dan kewaspadaan penuh di wilayah udara padat. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































