HANKAM

Bakal Ikut Rimpac 2026 di Hawaii, Prajurit Marinir Digembleng 2 Minggu

Asops Pangkormar Brigjen TNI (Mar) Arief Rahman Hendrata Anggorojati
Asops Pangkormar Brigjen TNI (Mar) Arief Rahman Hendrata Anggorojati memberikan pembekalan langsung kepada prajurit satgas latihan bersama multilateral Rimpac 2026 di Jakarta, Senin (8/6). (Foto: Dok. Dispen Kormar)

Jakarta, IDM – Pasukan Korps Marinir bersiap unjuk kemampuan dalam latihan maritim terbesar di dunia, Rim of the Pacific (Rimpac) 2026 di Hawaii, Amerika Serikat. Namun sebelum terbang, para prajurit pilihan ini wajib melahap gemblengan ketat selama dua pekan di dalam negeri.

Latihan pendahuluan selama 14 hari ini menjadi menu wajib bagi seluruh personel. Langkah tersebut diambil untuk menggenjot kesiapan fisik, memantapkan mental, serta mempertajam taktik tempur sebelum mereka berhadapan dengan simulasi perang nyata.

Baca Juga: Buka Latposko I Antar Kecabangan Brigade, Dankodiklat TNI AD: Tingkatkan Kemampuan Analisis

Asisten Operasi Panglima Korps Marinir (Asops Pangkormar) Brigjen TNI (Mar) Arief Rahman Hendrata Anggorojati mengecek langsung kesiapan pasukan di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (8/6). Arief menegaskan, masa persiapan ini menjadi modal utama karena mereka membawa nama baik Indonesia di panggung internasional.

Marinir
Jajaran prajurit Korps Marinir menyimak pemaparan teknis terkait kesiapan fisik dan taktis. Mereka dijadwalkan mengikuti latihan Rimpac 2026 selama 38 hari. (Foto: Dok. Dispen Kormar)

"Para prajurit yang terpilih merupakan personel terbaik Korps Marinir yang akan mewakili Indonesia dalam latihan maritim terbesar di dunia. Oleh karena itu, saya meminta seluruh personel untuk selalu menjaga disiplin, profesionalisme, serta nama baik bangsa, TNI AL, dan Korps Marinir selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan di sana," kata Arief, dikutip dari keterangan Dispen Kormar.

Usai menuntaskan masa penggemblengan fisik di Jakarta, barisan prajurit petarung ini baru bertolak menuju Hawaii. Mereka bakal menghabiskan waktu selama 38 hari di Amerika Serikat untuk menguji doktrin militer sekaligus memperluas wawasan operasi pertahanan matra laut.

Baca Juga: Modus Suku Cadang, Penyelundupan 544 Kg Merkuri Rp 1,5 M Digagalkan TNI AL

Ajang internasional ini menjadi sarana penting untuk meningkatkan interoperabilias atau kemampuan antarangkatan bersenjata berbeda negara untuk bekerja sama secara terpadu. Selain mengasah taktik, misi ini juga bertujuan mempererat hubungan diplomasi antarmiliter dunia dalam merespons tantangan keamanan laut global.

Dalam misi kali ini, Komandan Satgas Rimpac 2026 Letkol Laut (P) Eko Triyatomo memimpin langsung seluruh kontingen Indonesia. Sementara untuk unsur pasukan Korps Marinir, komando operasi berada di bawah kendali Letkol (Mar) Huda Prawira Soemarto.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.