1.105 Prajurit TNI UNIFIL Raih UN Medal di Lebanon

Jakarta, IDM - Bertepatan dengan HUT ke-77 TNI, 1.105 prajurit Satgas TNI Kontigen Garuda United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mendapat penganugerahan medali Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau UN Medal di Lebanon Selatan, Rabu (5/10).
Dikutip dari Puspen TNI, Jumat (7/10), UN Medal adalah medali kehormatan tertinggi dari PBB sebagai wujud penghargaan kepada pasukan perdamaian yang mengabdikan diri untuk menjalankan mandat serta menjaga perdamaian dalam misi PBB UNIFIL.
UNIFIL Head of Mission/Force Commander Major General Aroldo Lazaro Saenz, bertindak selaku inspektur upacara medal parade dan didampingi pejabat utama UNIFIL serta Duta Besar (Dubes) RI untuk Lebanon Hajriyanto Y Thohari.
Dalam kesempatan tersebut, Aroldo mengucapkan selamat kepada seluruh personel Satgas Kontingen Garuda atas kerja sama selama melaksanakan misi di Lebanon.
Aroldo secara langsung menyematkan medali kepada Komandan Kontingen Garuda, Kolonel (Inf) Fikri Ferdian, dan Komandan Force Head Quarter Support Unit (FHQSU), Force Protection Company (FPC), Sector East Military Police (Sempu), Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), Civil Military Cooperation (CIMIC), Hospital LV II. (at)
Hankam

Dilengkapi dengan Konsol OMC, C-130 Hercules A-1319 Semai 53,1 Ton NaCl di Sumsel
TNI Angkatan Udara memodifikasi pesawat C-130 Hercules A-1319 dengan konsol Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menanggulangi karhutla, dan telah berhasil menyemai 53,1 ton NaCl dalam 12 sortie di Sumatra Selatan.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































