Yonarhanud 2 Adakan Program Bimbingan Belajar Gratis di Perbatasan

Jakarta, IDM – Untuk mendukung lahirnya generasi masa depan yang berwawasan, Satgas di perbatasan Indonesia-Timor Leste, Yonarhanud 2 Kostrad, mengadakan program bimbingan belajar gratis di Desa Nino, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT.
Komandan Pos Nino, Letda Arh Gandi, mengatakan tujuan program bimbingan belajar gratis adalah untuk memacu kemampuan akademik dan pengetahuan anak-anak di wilayah pelosok yang seringkali memiliki keterbatasan akses pendampingan belajar.
Baca Juga: KSAL Jamin Anak 23 Marinir Dibiayai Kuliah hingga jadi TNI
“Kami ingin anak-anak di perbatasan tetap memiliki semangat belajar tinggi,” ujar Gandi dikutip dari siaran Penerangan Kostrad, Kamis (29/1).
Gandi menambahkan, keterbatasan wilayah tidak menjadi halangan untuk berprestasi.
Baca Juga: KSAL Ingatkan Perwira: Penegakan Hukum di Laut Harus Terukur
“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan mereka merasa didukung dalam meraih cita-citanya,” lanjutnya.
Dengan adanya bimbel gratis ini, Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Yonarhanud 2 Kostrad berharap dapat melahirkan generasi penerus yang cerdas, berwawasan luas, dan cinta tanah air. (nhn)
Hankam

Grup 1 Angkut Tegaskan A400M Perkuat Kemampuan Angkut Udara TNI AU
Grup 1 Angkut menegaskan bahwa keberadaan salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) terbaru TNI Angkatan Udara (TNI AU) yakni A400M turut memperkuat kemampuan angkut udara dalam mendukung berbagai tugas TNI.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































