HANKAM

Wakasal Tegaskan Alutsista Marinir dalam Kondisi Prima untuk Misi Gaza

Erwin S. Aldedharma
Wakasal Laksdya Erwin S. Aldedharma usai menghadiri upacara peringatan HUT ke-80 Korps Marinir di Cilandak, Jakarta, Senin (17/11). (IDM/Aini Tartinia)

Jakarta, IDM – Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksdya Erwin S. Aldedharma menegaskan seluruh alutsista Korps Marinir berada dalam kondisi siap operasi dan dapat digerakkan kapan pun, termasuk bila Indonesia memutuskan mengirim kontingen ke Gaza.

“Kalau peralatan memang sudah selalu siap. Itu sudah tuntutan dari awal bahwa setiap peralatan yang kita miliki harus selalu dalam keadaan siap untuk menghadapi segala macam kebutuhan tugas,” ujar Erwin di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta, Senin (17/11).

Erwin menegaskan kesiapan peralatan menjadi aspek krusial di tengah pemekaran organisasi Korps Marinir dan meningkatnya tuntutan profesionalisme pasukan baret ungu.

Baca Juga: Menhan Sjafrie Tinjau Kesiapan Batalion Teritorial Pembangunan 857/Gana Gajahsora Aceh

“Kesiapan alutsista, prajurit, dan organisasi akan terus disempurnakan agar mampu menjawab amanah dan tugas yang diberikan negara,” katanya.

Dukungan Unsur Zeni, Kesehatan, dan Logistik

Terkait kebutuhan misi luar negeri seperti Gaza, Erwin menyebut Korps Marinir telah menyiapkan unsur-unsur pendukung yang relevan.

“Zeni, kesehatan, dan kebutuhan logistik lainnya akan kita persiapkan sesuai arahan pimpinan,” ujarnya.

Baca Juga: TNI AU Kerahkan A400M untuk Tugas Perdana, Dukung Kunker Menhan Sjafrie ke Aceh

Ia menegaskan TNI harus berada dalam kondisi siap kapan saja. “Kita harus selalu siap menghadapi segala hal, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” lanjutnya.

Seleksi Personel TNI untuk Misi Gaza sudah Berjalan

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah sebelumnya menyebut penyiapan pasukan untuk misi Gaza dilakukan dalam bentuk kapabilitas, bukan penetapan batalion tertentu.

TNI menyiapkan kemampuan inti kesehatan dan zeni konstruksi, serta perlengkapannya seperti rumah sakit lapangan, peralatan medis emergensi, ambulans, sarana air bersih, dan alat berat rekonstruksi.

Baca Juga: Seleksi Personel untuk Misi Gaza Sudah Berjalan, Marinir Siapkan Zeni hingga Tenaga Kesehatan

“Jenis dan jumlahnya akan disesuaikan setelah mandat PBB dan kebutuhan lapangan ditetapkan,” kata Freddy.

Freddy juga menyebut Presiden Prabowo Subianto meminta TNI menyiapkan hingga 20.000 personel sebagai kapasitas dukungan kemanusiaan.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan pengerahan pasukan masih dibahas. Dua opsi skema yang kini mengemuka adalah misi di bawah PBB atau organisasi internasional yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump, dengan syarat negara-negara Arab memberikan persetujuan. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.