Waasops KSAL Periksa Kesiapan Operasi Satgas Pamtas RI-PNG dan Latma Keris Talwar

Jakarta, IDM - Wakil Asisten Operasi (Waasops) KSAL Laksamana Pertama TNI Ariantyo Condrowibowo, memeriksa kesiapan Operasi Satgas Pamtas RI-PNG mobile di Papua dan latihan bersama Keris Talwar Pakistan di Jakarta, Kamis (18/5).
Pada kesempatan tersebut, Ariantyo mengecek secara langsung kesiapan prajurit beserta material yang akan digunakan selama bertugas atau operasi.
Baca Juga: Warga Serahkan 6 Senpi dan Amunisi ke Pos Perbatasan Satgas Yonarmed 19/105 Trk Bogani
Dalam Amanatnya, ia menyampaikan para Satgas Pamtas RI-PNG dan latma Keris Talwar adalah prajurit-prajurit pilihan kebanggaan Korps Marinir. Oleh karena itu, ia berpesan untuk mengemban tugas dengan sebaik-baiknya.

"Karena tugas ini adalah yang pertama kali diperintahkan TNI AL, dalam hal ini Korps Marinir yang sebelumnya belum pernah ada," ujarnya dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Jumat (19/5).
Baca Juga: Kapal Perang TNI AL dan AL India Hancurkan Musuh di Laut Natuna
Lebih lanjut, ia menekankan para prajurit fokus terhadap pelaksanaan tugas.
"Kalian harus bisa menjaga semangat, memotivasi diri sendiri, dan jagalah mental kalian di daerah operasi," tandasnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































