Vietnam Punya Permintaan Khusus untuk Produk Bom Latih Indhan RI, Indonesia Ingin Timbal Balik

Jakarta, IDM – Kementerian Pertahanan RI menyatakan bahwa militer Vietnam memiliki permintaan khusus untuk produk bom latih yang diproduksi industri pertahanan (indhan) Indonesia.
Permintaan khusus itu disampaikan dalam pertemuan Wakil Menteri Pertahanan RI Donny Ermawan Taufanto dan Wakil Menteri Pertahanan Vietnam Letjen Senior Hoang Xuan Chien di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta Pusat, Kamis (18/9).
“Ada pembicaraan bagaimana nantinya akan ada pendampingan untuk meningkatkan lifetime bom latihnya,” ujar Kepala Biro (Karo) Informasi Pertahanan (Infohan) Sekjen Kemhan RI Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang usai pertemuan tersebut.
Diketahui, salah satu perusahaan indhan dalam negeri, PT Sari Bahari, mengekspor 500 unit bom latih jenis P-100P ke militer Vietnam pada 2023.
Baca Juga: Lulus Pendidikan, 230 Prajurit Dikukuhkan Jadi Penerjun Payung TNI AU
Wakil Direktur Utama PT Sari Bahari Putra Egam mengatakan, ekspor bom latih ke Vietnam akan dilanjutkan.
“Kalau di joint working group industri pertahanan, prospek kelanjutan kerja sama Sari Bahari dan Vietnam yang sudah ada, dalam hal ini ekspor, akan dilanjutkan,” kata Putra kepada Indonesia Defense Magazine (IDM), Kamis (18/9).
Namun, kata Putra, dalam klausul kerja sama tidak disebutkan peningkatkan lifetime bom latih.
Pertemuan antara Wamenhan RI dan Vietnam tersebut juga membahas peluang kerja sama di berbagai bidang.
Baca Juga: Bela Negara di Ruang Digital

“Beberapa potensi untuk kerja sama, termasuk juga pengadaan kapal dengan PT PAL, alat senjata dengan PT Pindad dan juga antara PT LEN,” kata Frega.
Selain itu, pihak Vietnam juga menyampaikan ingin berkolaborasi di bidang kedokteran militer, siber, hingga search and rescue (SAR).
“Tadi juga sempat dibahas beberapa potensi kerja sama dalam konteks dialog maupun implementasi di lapangan antara Angkatan Darat dengan Angkatan Darat, kemudian Angkatan Laut dengan Angkatan Laut dan Angkatan Udara dengan Angkatan Udara, baik itu yang sifatnya pelatihan militer kemudian pertukaran personel dan pendidikan,” ujar Frega.
Di sisi lain, Indonesia juga ingin timbal balik berupa kerja sama pemeliharaan dan perawatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) atau biasa disebut maintenance, repair, and overhaul (MRO).
Baca Juga: Soal TNI Jaga DPR, MPSI Nilai Sudah Sesuai Konstitusi
“Karena kita tahu kan Vietnam sendiri punya fasilitas MRO. Sementara kita juga punya alutsista-alutsista yang memang membutuhkan MRO. Itu menjadi salah satu peluang yang nanti dijajaki,” kata Frega.
Pertemuan kedua Wamenhan tersebut merupakan bagian dari dialog kebijakan pertahanan RI-Vietnam yang digelar sejak Rabu (17/9).
Kemhan RI menyatakan, kedua Wamenhan saling mengapresiasi kerja sama yang sudah terlaksana hingga saat ini dalam konteks hubungan bilateral kedua negara. (nma)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































